Lambeturah.co.id - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen bagi siswa baru untuk berkenalan dengan lingkungan sekolah dan teman-teman barunya. Namun, di balik kegiatan tersebut, terdapat risiko keamanan digital yang perlu menjadi perhatian orang tua, guru, dan pihak sekolah.

Setiap musim MPLS, tidak sedikit siswa yang diminta membuat dan mengunggah twibbon, foto, maupun video perkenalan ke media sosial. Konten tersebut umumnya memuat informasi seperti nama lengkap, wajah, asal sekolah, hingga berbagai data pribadi lainnya.

Jika diunggah ke akun media sosial yang dapat diakses publik, informasi tersebut berpotensi dilihat dan disimpan oleh siapa saja. Data yang semula hanya digunakan untuk kebutuhan perkenalan dapat disalahgunakan untuk berbagai kejahatan digital.

Jejak digital yang tersebar di internet juga tidak mudah dihapus. Dalam kondisi tertentu, data pribadi anak dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan, pencurian identitas, stalking, hingga berbagai modus scam yang semakin berkembang.

Hal ini menjadi perhatian serius karena sebagian korban merupakan anak-anak berusia sekitar 12 hingga 13 tahun yang belum sepenuhnya memahami risiko membagikan informasi pribadi di ruang digital.

Untuk mengurangi risiko tersebut, kegiatan perkenalan siswa sebenarnya dapat dilakukan melalui platform yang lebih terbatas dan aman. Sekolah dapat memanfaatkan grup WhatsApp khusus kelas, Google Classroom, atau platform pembelajaran lainnya yang hanya dapat diakses oleh guru dan siswa terkait.

Sekolah juga perlu memberikan edukasi mengenai keamanan digital dan pentingnya menjaga data pribadi sejak dini. Siswa perlu memahami bahwa tidak semua informasi tentang dirinya aman untuk dibagikan secara terbuka di media sosial.

Sudah saatnya kegiatan MPLS tidak hanya berfokus pada kreativitas dan eksistensi di media sosial, tetapi juga memperhatikan aspek perlindungan data pribadi dan keselamatan digital siswa.

Perlindungan terhadap privasi anak merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua, guru, dan sekolah perlu bekerja sama agar anak-anak dapat menggunakan internet dengan aman sekaligus memahami pentingnya menjaga jejak digital mereka.