Lambeturah.co.id – Kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda yang digelar Polda Metro Jaya bersama sejumlah mahasiswa dan tokoh publik di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026), menuai polemik di media sosial.
Acara yang semula dimaksudkan sebagai momentum memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 tersebut menjadi sorotan setelah muncul kritik publik terkait sejumlah peserta yang hadir, termasuk dugaan penggunaan atribut atau almamater perguruan tinggi oleh orang yang bukan mahasiswa aktif.
Polemik semakin berkembang setelah beredar informasi bahwa Polda Metro Jaya menghapus unggahan dokumentasi kegiatan tersebut dari akun media sosial resminya. Informasi mengenai penghapusan unggahan itu turut menjadi perbincangan warganet.
Sebagaimana dikutip dari laporan media yang mewawancarai, Sabtu (31/10/2026), persoalan tersebut juga menyeret nama kreator konten Willie Salim yang sebelumnya terlihat menghadiri kegiatan bersama Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad.
Kehadiran Willie menjadi perhatian setelah sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan keterlibatan figur publik dalam acara yang belakangan menuai kontroversi tersebut.
Informasi mengenai penghapusan unggahan Polda Metro Jaya memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.
Sejumlah warganet mempertanyakan alasan dokumentasi kegiatan yang sebelumnya dipublikasikan justru tidak lagi terlihat di akun media sosial kepolisian.
Namun, hingga berita ini disusun, belum terdapat penjelasan resmi yang terverifikasi mengenai alasan penghapusan unggahan tersebut.
Karena itu, belum dapat dipastikan apakah penghapusan dilakukan sebagai bagian dari evaluasi publikasi, pertimbangan internal, persoalan teknis, atau alasan lainnya.
Di sisi lain, kegiatan deklarasi tersebut memang sebelumnya dipublikasikan sebagai agenda mempererat persatuan antara mahasiswa, masyarakat, dan aparat kepolisian.
Di tengah polemik yang berkembang, kreator konten Willie Salim akhirnya memberikan penjelasan melalui akun Instagram pribadinya.
Willie menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kehadirannya dalam kegiatan tersebut yang memunculkan kekecewaan dan kritik dari sejumlah pihak.
Ia menegaskan bahwa dirinya hadir karena mendapatkan undangan, bukan sebagai bagian dari penyelenggara kegiatan.
"Saya hadir karena mendapatkan undangan. Saya tidak terlibat dalam penyelenggaraan maupun pengaturan peserta acara, serta tidak menerima bayaran ataupun imbalan dalam bentuk apa pun," demikian pernyataan Willie dalam unggahannya.
Willie juga menjelaskan bahwa kehadirannya didasari keinginan untuk memberikan dukungan kepada masyarakat yang menyuarakan pendapat.
Meski demikian, ia mengakui seharusnya lebih teliti dalam memahami keseluruhan konteks kegiatan sebelum memutuskan untuk hadir.
Menurutnya, apa pun niat awalnya, keputusan untuk menghadiri kegiatan tersebut tetap menjadi tanggung jawab pribadinya.
Ia pun menyampaikan permohonan maaf atas kurangnya ketelitian yang berujung pada kekecewaan sebagian masyarakat.
Persoalan lain yang turut memperbesar kontroversi adalah munculnya dugaan keterlibatan peserta yang bukan mahasiswa aktif, tetapi menggunakan atribut atau almamater perguruan tinggi dalam kegiatan tersebut.
Salah satu peserta yang menjadi sorotan adalah Bayu Setiadi alias Dino. Dalam klarifikasi yang beredar, ia mengakui bukan mahasiswa aktif dan menyebut keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut berdasarkan undangan komunitas serta menerima bayaran.
Pengakuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai proses perekrutan peserta dan penggunaan atribut perguruan tinggi dalam kegiatan yang mengatasnamakan deklarasi mahasiswa.
Sejumlah pihak dari lingkungan perguruan tinggi juga menyampaikan keberatan atas penggunaan atribut almamater tanpa keterlibatan atau persetujuan yang semestinya.
Persoalan ini kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai kredibilitas kegiatan yang membawa nama mahasiswa dan semangat Sumpah Pemuda.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya menggelar Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran HI dengan mengusung tema "Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia".
Kegiatan tersebut dilaporkan diikuti sekitar 100 mahasiswa dan dihadiri unsur TNI-Polri, organisasi kepemudaan, komunitas, serta sejumlah tokoh publik.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto sebelumnya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diharapkan menjadi wadah mempererat hubungan antara mahasiswa, masyarakat, dan aparat keamanan.
Sementara itu, Raffi Ahmad mengajak generasi muda untuk menjaga persatuan serta melawan penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi di media sosial.
Berkembangnya polemik tersebut membuat masyarakat menanti penjelasan lebih lanjut dari Polda Metro Jaya.
Beberapa persoalan yang menjadi perhatian antara lain alasan penghapusan unggahan dokumentasi kegiatan, mekanisme perekrutan peserta, dugaan penggunaan almamater perguruan tinggi oleh pihak yang bukan mahasiswa aktif, serta evaluasi penyelenggaraan deklarasi.
Kejelasan dari pihak kepolisian diperlukan agar berbagai informasi yang beredar di media sosial tidak berkembang menjadi spekulasi yang semakin luas.
Di sisi lain, klarifikasi Willie Salim menjadi salah satu respons personal terhadap kritik yang muncul akibat kehadirannya dalam kegiatan tersebut.





