Lambeturah.co.id - Harga sejumlah komoditas pangan nasional terpantau mengalami penurunan pada Senin (2/11/2026). Mulai dari beras, daging sapi, hingga minyak goreng mengalami koreksi harga. Penurunan paling tajam terjadi pada cabai rawit hijau yang anjlok hingga Rp7.500 per kilogram.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia (BI) per pukul 10.00 WIB, harga cabai rawit hijau turun 9,31 persen menjadi Rp73.100 per kg dari sebelumnya Rp80.600 per kg.
Penurunan juga terjadi pada cabai rawit merah sebesar 3,13 persen menjadi Rp97.400 per kg. Sementara itu, cabai merah besar turun 2,65 persen menjadi Rp71.700 per kg dan cabai merah keriting turun 1,01 persen menjadi Rp83.250 per kg.
Harga beras juga menunjukkan tren penurunan pada sejumlah kategori. Beras kualitas medium I turun 0,3 persen menjadi Rp16.650 per kg, sedangkan medium II turun 1,52 persen menjadi Rp16.200 per kg.
Untuk beras kualitas super I, harganya terkoreksi 1,94 persen menjadi Rp17.700 per kg. Adapun beras super II turun 1,72 persen menjadi Rp17.150 per kg.
Meski demikian, tidak semua jenis beras mengalami penurunan. Beras kualitas bawah I justru naik 2,34 persen menjadi Rp15.300 per kg. Sementara beras kualitas bawah II meningkat 1,69 persen menjadi Rp15.000 per kg.
Pada komoditas daging, harga daging sapi kualitas I turun cukup signifikan sebesar 4,9 persen atau Rp7.500 menjadi Rp145.700 per kg. Daging sapi kualitas II juga turun 4,73 persen atau Rp6.800 menjadi Rp137.100 per kg.
Berbeda dengan daging sapi, harga daging ayam ras segar naik 0,88 persen menjadi Rp40.150 per kg. Sementara harga telur ayam ras turun 1,7 persen menjadi Rp28.950 per kg.
Penurunan harga juga terjadi pada seluruh kategori minyak goreng. Minyak goreng curah turun 0,49 persen menjadi Rp20.200 per kg. Minyak goreng kemasan bermerek 1 turun 0,21 persen menjadi Rp24.200 per kg, sedangkan kemasan bermerek 2 turun 1,07 persen menjadi Rp23.200 per kg.
Di tengah tren penurunan tersebut, harga bawang justru mengalami kenaikan. Bawang merah ukuran sedang naik 5,96 persen menjadi Rp39.100 per kg. Sementara bawang putih ukuran sedang melonjak 7,12 persen menjadi Rp41.400 per kg.
Harga gula pasir juga mengalami kenaikan. Gula pasir kualitas premium naik 0,97 persen menjadi Rp20.800 per kg, sedangkan gula pasir lokal meningkat 0,51 persen menjadi Rp19.550 per kg.
Cabai Jadi Penyumbang Utama Inflasi Oktober 2026
Penurunan harga cabai pada awal November ini terjadi setelah komoditas tersebut menjadi salah satu pemicu utama inflasi pada Oktober 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan pada Oktober 2026 mencapai 0,22 persen. Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,51 persen. Kelompok ini memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yakni 0,15 persen.
Cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,13 persen. Disusul cabai rawit sebesar 0,05 persen dan tomat sebesar 0,04 persen.
Selain itu, sejumlah komoditas lain seperti sawi hijau, labu siam, dan sawi putih masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.
Ateng menjelaskan, komponen harga bergejolak atau volatile food mencatat inflasi tertinggi pada Oktober, yakni 0,77 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,13 persen.
Sementara itu, komponen inflasi inti tercatat sebesar 0,12 persen dengan andil 0,07 persen. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 0,09 persen dengan andil 0,02 persen. Tarif angkutan udara menjadi salah satu penyumbang inflasi pada kelompok terakhir tersebut.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 0,06 persen. Penurunan harga emas perhiasan menjadi faktor utama yang mendorong deflasi pada kelompok tersebut.
Berdasarkan wilayah, inflasi bulanan terjadi di 33 provinsi, sedangkan lima provinsi lainnya mengalami deflasi.
Papua Selatan mencatat inflasi tertinggi sebesar 1,12 persen. Sebaliknya, Gorontalo mengalami deflasi terdalam sebesar 0,67 persen.
Dengan turunnya sejumlah harga pangan pada awal November, terutama cabai, perkembangan harga komoditas dalam beberapa hari ke depan masih menjadi perhatian masyarakat.





