Lambeturah.co.id - Sebuah video yang memperlihatkan seekor kuda di Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengangkut tumpukan bahan bangunan berupa puluhan lembar asbes viral di media sosial. Tayangan tersebut memicu gelombang kritik dari warganet hingga wisatawan asing yang menilai satwa tersebut dieksploitasi secara berlebihan.
Dalam video yang diunggah akun TikTok @aimeeglen_, terlihat seekor kuda menarik kendaraan tradisional yang dipenuhi tumpukan asbes berukuran besar. Beban yang diangkut dinilai sangat berat sehingga memicu keprihatinan publik.
Unggahan tersebut disertai seruan bertuliskan "BOYCOTT GILI!". Pengunggah mengaku kecewa karena praktik tersebut masih terjadi di salah satu destinasi wisata paling populer di Indonesia.
Menurutnya, kuda-kuda di Gili Trawangan justru menjadi salah satu daya tarik wisata. Namun di balik popularitas pulau tersebut, ia menilai masih terjadi eksploitasi terhadap hewan untuk mengangkut wisatawan maupun barang.
Video itu pun ramai dibagikan ulang di berbagai platform media sosial. Banyak warganet mengecam dugaan perlakuan terhadap kuda tersebut dan meminta pemerintah daerah mengambil langkah agar kesejahteraan satwa lebih diperhatikan.
Meski demikian, pemerintah setempat membantah anggapan bahwa kuda di Gili Trawangan dipaksa bekerja secara berlebihan.
Kepala Dusun Trawangan, Muhammad Husni, menjelaskan bahwa kuda digunakan sebagai alat transportasi tradisional yang dikenal dengan nama cidomo. Moda transportasi ini menjadi salah satu sarana utama di Gili Trawangan karena pulau tersebut tidak memperbolehkan kendaraan bermotor beroperasi.
Husni mengatakan setiap kuda bekerja secara bergantian dengan durasi sekitar enam jam per hari. Setelah itu, hewan-hewan tersebut diistirahatkan dan mendapatkan giliran dengan kuda lainnya.
Selain itu, menurutnya para pemilik juga rutin memberikan perawatan berupa vitamin, pakan yang cukup, hingga pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi kuda tetap prima.
Meski sudah ada klarifikasi dari pihak setempat, video tersebut masih memicu perdebatan di media sosial. Sebagian pihak menilai beban yang diangkut dalam video terlihat terlalu berat, sementara yang lain meminta publik menunggu hasil pemeriksaan dari pihak berwenang sebelum menarik kesimpulan.
Hingga kini, video tersebut masih menjadi sorotan dan memunculkan kembali diskusi mengenai kesejahteraan hewan di kawasan wisata Gili Trawangan.





