Lambeturah.co.id – Sebuah metode dakwah tidak biasa menjadi perhatian publik dalam kegiatan Pengajian Rutin Ahad Pahing yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
Seorang pendakwah bernama Gus Faruq menyampaikan ceramah selama kurang lebih 1,5 jam atau 90 menit dari dalam liang lahat. Dalam prosesi tersebut, Gus Faruq terlebih dahulu mengenakan kain kafan sebelum dimasukkan ke dalam liang kubur dan ditimbun tanah layaknya pemakaman jenazah.
Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Desa Cialam Jaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Minggu (1/11/2026).
Aksi dakwah yang terbilang tidak lazim itu sontak menarik perhatian para jemaah. Pasalnya, Gus Faruq tetap menyampaikan materi keagamaan meskipun tubuhnya berada di dalam liang lahat yang telah ditutup menggunakan papan dan ditimbun tanah.
Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Konawe Selatan, Yazidurrozaq, membenarkan adanya kegiatan tersebut. Ia mengaku menyaksikan langsung prosesi dakwah yang dilakukan Gus Faruq.
"Iya benar beliau melakukan ceramah di dalam kubur selama 1,5 jam," ungkap Yazidurrozaq.
Ia menjelaskan, prosesi tersebut dilakukan menyerupai pemakaman jenazah. Setelah mengenakan kain kafan, Gus Faruq dimasukkan ke liang lahat, kemudian ditutup papan dan ditimbun tanah hingga membentuk gundukan makam.
"Bahkan ada gundukan tanahnya dan ada nisannya juga. Bisa dipastikan tidak ada lubang udara, hanya kabel mikrofon saja yang keluar," jelasnya.
Menurut Yazid, ceramah disampaikan sejak proses mengenakan kain kafan, saat dimasukkan ke liang lahat, hingga akhirnya digali kembali. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung sekitar 90 menit.
Menanggapi perhatian dan beragam penafsiran masyarakat, Ketua PCNU Konawe Selatan, Mohamad Anwar, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan metode dakwah untuk mengingatkan manusia tentang kematian.
Ia meminta masyarakat tidak keliru memahami pesan yang ingin disampaikan melalui metode tersebut.
"Ini adalah metode ceramah, bukan menyembah kubur. Beliau ceramah tentang kematian dari dalam liang lahat sebagai media untuk mengingatkan jamaah agar mengingat kematian dan segera bertaubat," tegas Mohamad Anwar.
Anwar juga menegaskan bahwa materi yang disampaikan berlandaskan ajaran tauhid.
"Niatnya tadzkiratul maut (ingat mati), isinya tauhid. Bukan syirik," ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa metode dakwah kreatif tetap harus memperhatikan aspek keselamatan dan adab dalam pelaksanaannya.
"Boleh sebagai metode kreatif, tapi jangan ditiru sembarangan karena ada faktor keselamatan dan adab," pungkasnya.





