Lambeturah.co.id – Gelaran ARTJOG 2026 diwarnai polemik setelah sejumlah seniman dan pekerja seni menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan Didit Hediprasetyo atau Didit Prabowo dalam acara tersebut. Putra Presiden Prabowo Subianto itu sebelumnya dijadwalkan hadir sekaligus menjadi bagian dari pihak pendukung penyelenggaraan pameran seni tahunan tersebut.

Penolakan yang ramai bergulir di media sosial memicu ajakan aksi demonstrasi menjelang pembukaan ARTJOG di Jogja National Museum (JNM), Jumat (19/6/2026). Menyikapi situasi tersebut, panitia akhirnya membatalkan kehadiran Didit dalam agenda pembukaan pameran yang menampilkan karya dari 54 seniman terpilih.

Head of Curator ARTJOG, Bambang Toko Wicaksono, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai respons yang berkembang di ruang publik. Menurutnya, pihak penyelenggara menghormati setiap pandangan yang disampaikan masyarakat maupun komunitas seni.

Ia menjelaskan bahwa Didit memahami situasi yang terjadi dan memilih untuk tidak menghadiri acara pembukaan. Nama Didit yang sebelumnya tercantum dalam sejumlah materi promosi dan publikasi juga dipastikan tidak lagi menjadi bagian dari agenda pembukaan.

Meski batal hadir, Bambang menegaskan dukungan yang telah diberikan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ia menepis anggapan bahwa dukungan tersebut berkaitan dengan intervensi terhadap karya ataupun proses kuratorial yang berlangsung di ARTJOG.

Menurutnya, dukungan yang diberikan lebih berfungsi sebagai jembatan penyelenggaraan kegiatan, tanpa adanya campur tangan dalam penentuan karya maupun arah pameran. Ia memastikan kebebasan berekspresi para seniman tetap terjaga sepenuhnya.

Di tengah munculnya protes dari sebagian kalangan, ARTJOG juga memastikan tidak ada satu pun seniman peserta yang mengundurkan diri. Seluruh peserta tetap berpartisipasi karena proses persiapan dan kurasi telah berlangsung sejak tahun lalu.

Bambang menegaskan bahwa dukungan dari pihak mana pun tidak memengaruhi kebebasan para seniman untuk menyampaikan kritik sosial maupun politik melalui karya mereka. Ia mencontohkan bahwa pada penyelenggaraan sebelumnya, karya-karya yang mengangkat isu aktivisme, hak asasi manusia, hingga kritik sosial tetap mendapat ruang untuk dipamerkan.

Polemik yang terjadi tahun ini mengingatkan sebagian kalangan pada perdebatan sekitar satu dekade lalu terkait keterlibatan perusahaan tambang Freeport dalam ajang seni tersebut. Dari pengalaman itu, ARTJOG mengaku belajar untuk membangun sistem dukungan yang lebih terbuka dan akuntabel.

Bambang menjelaskan bahwa dukungan yang diterima saat ini berasal dari lembaga berbentuk yayasan yang memiliki mekanisme transparansi serta rekam jejak dalam mendukung kegiatan seni dan budaya.

Di luar kontroversi yang berkembang, ARTJOG 2026 mengangkat tema mengenai hubungan antargenerasi dan proses pewarisan tradisi dalam seni kontemporer. Menurut Bambang, generasi seniman muda kini tidak lagi memandang tradisi sebagai sesuatu yang harus diwariskan secara utuh, melainkan sebagai pengetahuan yang dapat diolah dan dikembangkan sesuai konteks zaman.

Ia menilai terdapat perbedaan cara pandang antara generasi lama dan generasi baru dalam memaknai tradisi. Namun demikian, keduanya tetap memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga keberlanjutan nilai budaya melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan masyarakat.

Tema tersebut tercermin dalam berbagai karya yang memadukan beragam medium dan unsur budaya. Praktik persilangan budaya dinilai semakin kuat dalam perkembangan seni kontemporer, menghadirkan bentuk-bentuk ekspresi baru yang memperkaya khazanah seni rupa.

Untuk penyelenggaraan tahun ini, ARTJOG menerima sekitar 540 karya melalui mekanisme open call. Setelah melewati proses seleksi dan kurasi, sebanyak 54 karya terpilih dipamerkan kepada publik.

Bambang menyebut ARTJOG 2026 menghadirkan sejumlah pembaruan dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dari sisi kekuatan konsep dan penataan ruang pamer. Menurutnya, perancangan ruang yang lebih matang diharapkan mampu memberikan pengalaman yang lebih mendalam bagi para pengunjung dalam menikmati karya-karya yang ditampilkan.