Lambeturah.co.id - Kisah perjuangan warga Desa Baruru, Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), mengantarkan seorang pasien menuju fasilitas kesehatan menjadi sorotan di media sosial. Pasalnya, seorang pria bernama Petrus harus ditandu sejauh sekitar 20 kilometer selama tujuh jam akibat akses jalan yang rusak parah.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (2/11/2026). Petrus terpaksa dievakuasi menggunakan tandu sederhana karena kendaraan tidak bisa menjangkau rumahnya di Desa Baruru.

Kepala Desa Baruru, Rusman, membenarkan peristiwa yang videonya viral di media sosial pada Jumat (6/11/2026) tersebut.

Menurut Rusman, Petrus mengalami pembengkakan pada bagian kaki sehingga membutuhkan penanganan medis. Namun, kondisi jalan yang buruk membuat proses evakuasi tidak bisa dilakukan menggunakan kendaraan biasa.

"Tidak bisa goyang, kakinya bengkak, dia ditandu karena memang kondisi jalan hanya bisa dilalui mobil hartop," kata Rusman, Jumat (6/11/2026).

Proses evakuasi dimulai sekitar pukul 08.00 Wita. Petrus harus dibawa dari rumahnya menuju Puskesmas Aralle dengan berjalan kaki sambil ditandu oleh warga.

Perjalanan tersebut memakan waktu hingga tujuh jam. Pasien baru tiba di puskesmas pada sore hari setelah menempuh jarak sekitar 20 kilometer.

"Ada sekitar 20 kilometer, Pak, baru sampai. Karena ia memang ditandu sampai di Puskesmas Aralle," ujar Rusman.

Setelah mendapatkan penanganan awal, Petrus kemudian dirujuk ke rumah sakit di Mamuju untuk memperoleh perawatan lebih lanjut.

Warga Berulang Kali Tandu Pasien karena Jalan Rusak

Rusman mengungkapkan, peristiwa warga harus menandu pasien akibat buruknya akses jalan bukan kali pertama terjadi di wilayahnya.

Kondisi jalan yang sulit dilalui kendaraan membuat warga kerap menghadapi kesulitan ketika hendak membawa anggota keluarga yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Bahkan, warga yang hendak melahirkan juga beberapa kali harus ditandu untuk mencapai fasilitas kesehatan.

"Sudah sering, Pak, apalagi kalau orang mau melahirkan harus ditandu," ungkapnya.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat sejumlah warga bergotong royong menggotong Petrus menggunakan tandu darurat.

Tandu tersebut dibuat dari dua potongan bambu yang diikat menggunakan kain sarung sebagai alas untuk membaringkan pasien. Warga juga membentangkan terpal di atas tandu untuk melindungi Petrus dari terik matahari maupun kemungkinan turun hujan.

Proses evakuasi dilakukan secara bergantian oleh warga. Mereka bahu-membahu melewati akses jalan yang sulit agar Petrus bisa segera mendapatkan pertolongan medis.

Peristiwa ini kembali memperlihatkan sulitnya akses pelayanan kesehatan yang dihadapi masyarakat di wilayah terpencil ketika kondisi infrastruktur jalan belum memadai.