Lambeturah.co.id — Kerumunan warga di sekitar sebuah klenteng di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kembali menjadi perhatian. Puluhan orang terlihat berkumpul mengitari meja-meja yang dipenuhi berbagai makanan dan bahan kebutuhan sehari-hari.

Momen tersebut merupakan bagian dari tradisi Sembahyang Rebutan, salah satu tradisi masyarakat Tionghoa yang masih hidup di Lasem.

Melalui unggahan media sosial Rumah Merah Heritage Lasem, suasana tradisi tersebut terlihat berlangsung meriah. Warga berkumpul, sementara sejumlah peserta tampak bersiap mengikuti prosesi pembagian sesaji.

Namun, di balik istilah "rebutan", terdapat pesan sosial yang jauh lebih besar. Tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk berbagi rezeki dan mempererat hubungan antarmasyarakat.

Pemerintah Kabupaten Rembang mencatat, dalam pelaksanaan Sembahyang Rebutan di Klenteng Cu An Kiong Lasem, sesaji yang telah digunakan dalam prosesi sembahyang kemudian dibagikan kepada warga dalam bentuk bahan kebutuhan pokok. Warga bahkan telah menunggu sebelum prosesi pembagian dimulai.

Sembahyang Rebutan memiliki kaitan dengan penghormatan terhadap leluhur. Tradisi ini dikenal sebagai bagian dari perayaan bulan ketujuh dalam kalender Imlek dan dalam konteks masyarakat Tionghoa juga berkaitan dengan tradisi yang dikenal sebagai Gui Yue atau Festival Bulan Hantu.

Setelah rangkaian sembahyang selesai, perhatian kemudian beralih kepada masyarakat yang telah menunggu. Sajian yang sebelumnya menjadi bagian dari ritual kemudian dibagikan.

Di titik inilah Sembahyang Rebutan memiliki dimensi sosial yang kuat.

Makanan dan kebutuhan pokok tidak berhenti sebagai persembahan dalam ritual, tetapi juga menjadi sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa sebuah ritual budaya dapat memiliki fungsi sosial sekaligus menjadi ruang perjumpaan warga.

Keberadaan Sembahyang Rebutan juga memperlihatkan bagaimana tradisi masyarakat Tionghoa masih menjadi bagian dari wajah Lasem.

Lasem selama ini dikenal sebagai kawasan yang memiliki jejak kuat sejarah masyarakat Tionghoa. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bahkan menyebut Lasem sebagai "Tiongkok Kecil", dengan keberadaan kawasan Pecinan, klenteng-klenteng berusia ratusan tahun, serta berbagai warisan budaya lainnya. Lasem juga dikenal sebagai salah satu kawasan yang memperlihatkan perjumpaan budaya Jawa dan Tionghoa.

Warisan budaya di Lasem tidak hanya berupa bangunan tua. Tradisi dan ritual yang masih dilakukan masyarakat juga menjadi bagian penting dari identitas kawasan tersebut.

Lasem Heritage Foundation memasukkan ritual dan tradisi sebagai salah satu bagian dari warisan budaya tak benda Lasem, berdampingan dengan tradisi lisan, berbagai event budaya, serta pengetahuan kearifan lokal.

Karena itu, keberlangsungan Sembahyang Rebutan menjadi lebih dari sekadar agenda keagamaan. Ia menjadi bukti bahwa budaya dapat terus hidup ketika masih dijalankan oleh masyarakat.

Lasem juga menarik karena kehidupan budaya di kawasan ini tidak berdiri sendiri. Sejarah Lasem memperlihatkan perjumpaan berbagai kelompok masyarakat yang membentuk karakter kawasan tersebut hingga sekarang.

Kawasan Pecinan Lasem berdampingan dengan berbagai peninggalan budaya lainnya. Bahkan di kawasan yang dikenal sebagai Tiongkok Kecil itu dapat ditemukan bangunan-bangunan berarsitektur Tionghoa serta pesantren tua dengan unsur arsitektur Tiongkok. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Lasem dikenal sebagai kota toleransi.

Dalam konteks tersebut, Sembahyang Rebutan menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah tradisi komunitas dapat tetap hadir di tengah kehidupan masyarakat yang beragam.

Bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan sesaji paling banyak, tetapi bagaimana tradisi tersebut menghadirkan semangat berbagi, kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Di tengah perkembangan pariwisata dan modernisasi kawasan Lasem, keberadaan tradisi seperti Sembahyang Rebutan menjadi semakin penting.

Lasem kini tidak hanya dikenal karena bangunan kuno dan kawasan Pecinannya. Rumah-rumah bersejarah, batik, klenteng dan berbagai tradisi masyarakat menjadi bagian dari daya tarik wisata budaya kawasan tersebut.

Namun, menjadikan tradisi sebagai daya tarik wisata tentu tidak cukup hanya dengan menghadirkan tontonan.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa makna di balik tradisi tersebut tetap dipahami.

Sembahyang Rebutan mengingatkan bahwa warisan budaya bukan sekadar sesuatu yang bisa difoto atau disaksikan. Di dalamnya terdapat nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi—mulai dari penghormatan kepada leluhur hingga kepedulian terhadap sesama.

Di Lasem, sebuah tradisi lama kembali memperlihatkan wajahnya. Bukan hanya wajah budaya Tionghoa yang masih bertahan, tetapi juga wajah masyarakat yang mau berbagi. Sebab pada akhirnya, "rebutan" dalam tradisi ini bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu, melainkan tentang bagaimana rezeki yang dipersembahkan dapat kembali dirasakan bersama.