Lambeturah.co.id - Tindakan arogan seorang penumpang pesawat di Tiongkok mendadak viral dan memicu gelombang kemarahan publik. Seorang pramugari China Eastern Airlines dipaksa berlutut dan meminta maaf di lorong kabin hanya karena hal sepele: menyenggol siku penumpang saat menyajikan minuman.

Insiden tersebut terjadi dalam penerbangan rute Hefei menuju Dalian. Meski pramugari langsung meminta maaf berulang kali, penumpang pria yang terbangun dari tidurnya itu justru makin emosi. Ia mengumpat, menggunakan kata-kata kasar, hingga mengancam akan menendang sang pramugari. Tak berhenti di situ, ia bahkan menuntut diajak ke rumah sakit begitu pesawat mendarat.

Setibanya di Dalian, tim medis langsung memeriksa kondisi penumpang tersebut dan tidak menemukan adanya cedera. Tawaran staf darat untuk membawanya ke fasilitas medis pun ditolaknya, sebelum akhirnya ia pergi begitu saja.

Tindakan kasar tersebut menuai respons ketat dari pihak maskapai dan otoritas penerbangan. China Eastern Airlines memberikan pendampingan psikologis kepada sang pramugari hingga kini siap bertugas kembali. Selain itu, maskapai memblokir dan menangguhkan layanan penerbangan bagi penumpang tersebut, serta melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.

Asosiasi Transportasi Udara China (CATA) menyuarakan dukungan penuh atas langkah tegas tersebut. CATA menegaskan pentingnya menjaga keselamatan penerbangan sekaligus melindungi martabat para pekerja garda depan. Berdasarkan revisi Undang-Undang Penerbangan Sipil Tiongkok yang berlaku sejak 1 Juli, tindakan menghina, menyerang awak pesawat, maupun berbuat onar di dalam kabin merupakan pelanggaran hukum yang serius.

Sisi Gelap Profesi Pramugari: Tekanan Tinggi dan Pengaduan Sepihak

Sorotan atas insiden ini turut membuka tabir tekanan berat yang dihadapi para awak kabin. Yang Nan, seorang mantan pramugari maskapai besar di Tiongkok, mengungkapkan bahwa profesi ini penuh dengan aturan ketat dan tekanan mental.

Ia menceritakan pengalamannya saat mendapat aduan dari penumpang yang mengaku tidak diberi tisu basah pada penerbangan jarak jauh ke Selandia Baru. Meski klaim tersebut tidak dapat diverifikasi secara pasti, pihak perusahaan tetap menganggap pengaduan itu valid.

Akibat aduan sepihak tersebut, nilai kinerja bulanan Yang Nan anjlok. Ia diwajibkan menulis laporan introspeksi diri, menjalani sesi korektif bersama pimpinan, hingga dihukum bekerja di shift administrasi saat hari liburnya. Tekanan bertubi-tubi itu akhirnya membuat Yang Nan mantap mengundurkan diri.

Ia menggambarkan profesi pramugari layaknya "pengepungan"banyak orang di luar berbondong-bondong ingin masuk karena terlihat berkilau, sementara mereka yang di dalam berjuang keras untuk keluar dari tekanan kerja yang begitu tinggi.