Lambeturah.co.id - Latihan simulasi pengendalian massa (dalmas) yang digelar Polres Cilegon berujung kepanikan di lingkungan SMK Madinatul Hadid, Kamis (8/10/2026). Asap gas air mata yang ditembakkan saat latihan dilaporkan terbawa angin hingga masuk ke area sekolah dan berdampak pada belasan siswa.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 10.00 hingga 10.30 WIB tersebut membuat para siswa mendadak mengalami gejala mata perih, pusing, hingga sesak napas.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Madinatul Hadid, Farid Jami’in, mengungkapkan bahwa pihak sekolah awalnya tidak mengira jika asap yang berembus ke area mereka merupakan gas air mata.
"Kira-kira jam sepuluhan atau setengah sebelas, ada asap terbawa angin dari kantor kepolisian. Tidak tahu asap apa, bikin pusing," ujar Farid kepada awak media.
Melihat kondisi para murid yang mulai mengeluhkan sakit, pihak sekolah langsung berkoordinasi untuk mengevakuasi dan membawa para siswa ke sejumlah fasilitas kesehatan guna mendapatkan penanganan medis.
Dikonfirmasi terpisah, Kasi Humas Polres Cilegon AKP Imam Maryono membenarkan bahwa gas air mata tersebut berasal dari kegiatan simulasi penanganan aksi demonstrasi yang tengah berlangsung di halaman Mapolres Cilegon. Menurutnya, faktor angin membuat asap bergerak ke arah luar area latihan.
"Gas air mata tersebut kita tidak tahu, dalam pelaksanaan itu kebetulan adanya angin, terbawa arah angin. Siswa yang mungkin lagi nongkrong atau lihat, kena dampak dari perih terhadap mata," jelas Imam.
Ia mencatat ada sebanyak 19 siswa yang terdampak dan langsung dilarikan ke berbagai faskes, di antaranya RSKM, RS Kurnia, RS Hermina, Eka Hospital, puskesmas setempat, hingga Dokkes Polres Cilegon.
Atas insiden ini, pihak Polres Cilegon menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada para korban dan pihak sekolah. Kepolisian juga memastikan seluruh biaya penanganan medis dan transportasi para siswa ditanggung sepenuhnya oleh Polres Cilegon.
Imam memastikan bahwa kondisi seluruh siswa kini telah membaik dan diperbolehkan pulang usai menjalani pemeriksaan medis.
"Total siswa ada 19 anak yang terkena. Mereka sudah pulang semua. Begitu cek ke rumah sakit langsung dibawa pulang," pungkasnya.





