Lambeturah.co.id - Seorang guru geografi MAN 3 Nganjuk, Suaidi (56), meninggal dunia setelah sempat terlibat cekcok dengan seorang siswa di lingkungan sekolah. Peristiwa tersebut terjadi beberapa hari sebelum Suaidi mengembuskan napas terakhir di rumah sakit.

Suaidi meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026) setelah mendapatkan perawatan medis selama beberapa hari. Sebelumnya, ia sempat mengalami pusing, muntah-muntah hingga tidak sadarkan diri setelah terjadi insiden dengan siswa.

Pihak sekolah maupun kepolisian memastikan almarhum memiliki riwayat penyakit hipertensi dan stroke. Karena itu, kematian Suaidi belum dinyatakan sebagai akibat langsung dari insiden dengan siswa.

Humas MAN 3 Nganjuk, Ihwanus Sofa, mengatakan kondisi tekanan darah Suaidi memang cukup tinggi. Saat menjalani pemeriksaan awal, tekanan darah almarhum disebut mencapai 240.

"Ketika pemeriksaan awal itu tensinya 240. Kalau kekerasan saya rasa kok tidak ya," ujar Sofa kepada wartawan, Rabu (9/9/2026).

Kasi Humas Polres Nganjuk AKP Fajar Kurniadhi juga membenarkan bahwa Suaidi memiliki riwayat hipertensi dan stroke. Polisi bahkan telah mendatangi kediaman keluarga almarhum di Kediri untuk mengetahui kondisi kesehatan korban.

"Polres Nganjuk sudah ke kediaman almarhum di Kediri. Keluarga menerima kejadian itu sebagai musibah. Dari rekam medis, almarhum sakit hipertensi dan stroke," kata Fajar.

Keluarga Suaidi juga disebut menolak dilakukan autopsi maupun visum. Mereka menerima kejadian tersebut sebagai musibah akibat kondisi kesehatan yang diderita almarhum.

Kronologi Guru dan Siswa Terlibat Cekcok

Peristiwa bermula pada Selasa (1/9/2026) sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu, Suaidi hendak masuk kelas untuk mengajar.

Sebelum mengajar, ia terlebih dahulu menuju kamar mandi siswa yang berada di dekat ruang kelas. Ketika berada di dalam toilet, seorang siswa disebut menggedor-gedor pintu kamar mandi.

Suaidi kemudian keluar dan mencari siswa yang dianggap menggedor pintu toilet tersebut. Terjadi kesalahpahaman antara guru dan siswa.

Menurut pihak sekolah, Suaidi saat itu bermaksud memberikan teguran dengan cara menunjuk atau menjewer telinga siswa. Namun, siswa tersebut menolak dan menangkis tangan sang guru.

Akibat gerakan tersebut, tubuh Suaidi terhuyung dan nyaris terjatuh. Sejumlah guru dan siswa yang berada di sekitar lokasi kemudian membantu menolongnya.

"Mungkin, (S) mau menjewer atau gimana, tapi si anak itu menolak. Akhirnya (S) terhuyung dan hampir jatuh. Guru dan siswa yang ada di sekitar situ menolongnya," jelas Sofa.

Setelah situasi berhasil ditenangkan, Suaidi sempat kembali berjalan menuju ruang kelas untuk mengajar. Namun, di tengah perjalanan kondisinya tiba-tiba memburuk.

Ia mengalami muntah-muntah dan kemudian kehilangan kesadaran. Suaidi langsung dibawa ke puskesmas terdekat sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit di Kota Kediri.

Setelah menjalani perawatan medis selama beberapa hari, Suaidi akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026).

Polisi Masih Periksa Sejumlah Saksi

Meski keluarga telah menerima kematian Suaidi sebagai musibah, polisi tetap melakukan pendalaman terhadap rangkaian kejadian yang berlangsung di sekolah.

Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk pihak sekolah dan rekan guru yang membantu membawa Suaidi ke fasilitas kesehatan setelah jatuh pingsan.

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan rangkaian kejadian secara utuh, termasuk apakah insiden cekcok dengan siswa memiliki keterkaitan dengan memburuknya kondisi kesehatan Suaidi.

Polisi hingga kini belum menyimpulkan adanya tindakan kekerasan yang menjadi penyebab kematian guru MAN 3 Nganjuk tersebut.