Lambeturah.co.id - Sebuah video yang memperlihatkan bongkahan es diduga berasal dari kegiatan operasi modifikasi cuaca (OMC) jatuh menimpa rumah warga viral di media sosial. Bongkahan tersebut disebut menghantam atap hingga menjebol plafon rumah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun angkat bicara terkait kejadian tersebut.
Dalam video yang beredar pada Senin (19/10/2026), seorang warga menceritakan detik-detik terdengarnya suara keras seperti ledakan saat dirinya sedang beristirahat di rumah. Setelah memeriksa sumber suara, ia menemukan bongkahan es yang diduga jatuh dari bagian atas plafon.
"Bagaimana ceritanya ini, lagi enak-enak tiduran tiba-tiba meledak bunyi seperti bom. Pas dilihat ternyata nah, barang ini jatuh dari atas plafon. Plafon sampai bolong," ujar warga tersebut dalam video.
Warga itu kemudian memperlihatkan bongkahan yang ukurannya diperkirakan sebesar setengah kepalan tangan orang dewasa. Saat dimasukkan ke dalam bak berisi air, bongkahan tersebut terlihat menggelembung dan mengeluarkan sesuatu menyerupai asap.
Ia menduga benda tersebut merupakan dry ice atau es kering yang digunakan dalam kegiatan modifikasi cuaca.
"Ini dry ice sepertinya dari pemerintah. Ini kumasukkan dalam air. Apa ini sebenarnya. Ada yang tahu?" lanjutnya.
BMKG Ungkap Ukuran Dry Ice untuk Penyemaian Awan
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengaku telah mengetahui video yang beredar tersebut. Ia menjelaskan bahwa bahan dry ice yang digunakan untuk penyemaian awan idealnya memiliki ukuran sekitar 3 milimeter.
Meski demikian, Siswanto tidak menutup kemungkinan butiran dry ice menyatu selama proses penyimpanan. Material karbon dioksida (CO2) padat yang ditempatkan di ruang pembeku bersuhu sangat rendah berpotensi membentuk bongkahan.
"Semestinya bahan dry ice itu memang ukurannya 3 mm ya. Tetapi pada saat di penyimpanan itu diletakkan di ruang beku yang cukup dingin," kata Siswanto, Senin (19/10/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa pada hari pertama pelaksanaan uji coba teknologi penyemaian tersebut, lubang pembuangan material pada pesawat belum dilengkapi penyaring khusus.
Temuan itu kemudian menjadi bahan evaluasi bagi tim BMKG. Pada pelaksanaan berikutnya, tim akan memasang penyaring dengan ukuran tertentu serta alat pemecah untuk memastikan dry ice yang disebarkan memiliki ukuran lebih kecil.
"Untuk hari berikutnya itu sudah menjadi evaluasi kami, itu ada penyaring ukurannya sendiri, kemudian ada alat pemecahnya sehingga ukuran dry ice pada saat disemai sudah kecil," jelasnya.
BMKG Ragukan Bongkahan Es Bisa Jebol Atap Rumah
Meski melakukan evaluasi terhadap proses penyemaian, Siswanto mengaku masih meragukan dugaan bahwa bongkahan es tersebut mampu menembus atap rumah warga, terutama jika atap bangunan terbuat dari seng.
Menurutnya, material yang dijatuhkan dari ketinggian atmosfer akan mengalami gesekan dengan udara selama perjalanan menuju permukaan bumi. Proses tersebut diperkirakan dapat membuat ukuran bongkahan es menyusut sebelum mencapai tanah.
"Kalau dampaknya sampai merusak atap ini sepertinya kurang jelas, kalau atap seng saya yakin enggak. Karena kalaupun bongkahan awal agak besar, ketika dijatuhkan dari ketinggian tertentu dia akan tergesek oleh angin, harusnya mengecil," ungkapnya.
Kendati demikian, dugaan asal-usul bongkahan yang ditemukan warga tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan video yang beredar.
BMKG menegaskan akan memperketat evaluasi dan prosedur operasional kegiatan operasi modifikasi cuaca untuk meminimalkan risiko serta memastikan kegiatan tersebut berlangsung aman bagi masyarakat.
"Kami terus melakukan evaluasi agar pelaksanaan OMC ini berjalan optimal dan aman bagi masyarakat," tutup Siswanto.





