Lambeturah.co.id - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyoroti maraknya fenomena tenaga kesehatan (nakes) yang dinilai menunjukkan sikap kurang empati hingga menghujat pasien melalui media sosial. Menurut IDI, perilaku tersebut harus disikapi secara bijak karena dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya kelelahan emosional atau burnout.
Wakil Ketua Majelis Pengembangan Profesi Kedokteran IDI, Mahesa Paranadipa, menjelaskan bahwa tekanan pekerjaan, beban kerja yang tinggi, serta berbagai persoalan sistemik di lapangan kerap menjadi pemicu munculnya perilaku tersebut.
"Fenomena ini perlu disikapi secara bijak dan proporsional. Di satu sisi, fenomena ini dapat dipicu oleh kelelahan emosional (burnout) atau kurangnya pemahaman mengenai digital professionalism pada sebagian oknum," ujar Mahesa, Rabu (5/8/2026).
Meski demikian, Mahesa menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan sikap yang tidak berempati kepada pasien. Menurutnya, tenaga kesehatan tetap dituntut menjaga profesionalisme dan etika, termasuk saat beraktivitas di media sosial.
IDI juga meminta agar setiap dugaan pelanggaran etik yang melibatkan tenaga kesehatan terlebih dahulu melalui proses verifikasi identitas secara objektif sebelum dijatuhkan sanksi.
Mahesa menambahkan, apabila akun yang diduga melakukan pelanggaran ternyata bukan milik tenaga kesehatan asli atau menggunakan identitas palsu, maka persoalan tersebut tidak lagi masuk dalam ranah etik profesi.
"Jika akun yang bersangkutan ternyata bukan nakes asli atau akun buatan yang memalsukan identitas, maka masalah ini bergeser dari ranah pelanggaran etik profesi menjadi ranah penipuan publik dan tindak pidana ITE berupa impersonasi," tegasnya.
IDI berharap masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan terhadap setiap unggahan yang mengatasnamakan profesi tenaga kesehatan. Organisasi tersebut juga mengingatkan pentingnya menjaga etika digital sekaligus memastikan identitas pelaku sebelum mengambil langkah hukum maupun etik.




