Lambeturah.co.id - Ribuan pelajar tingkat SMP, SMA, hingga SMK dari berbagai sekolah se-Kabupaten Jayawijaya menggelar aksi unjuk rasa di Wamena, Papua Pegunungan, pada Selasa (15/9/2026). Massa aksi secara tegas menyuarakan penolakan terhadap pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah mereka.

Aksi massa yang digerakkan oleh Solidaritas Pelajar West Papua (SPWP) ini bergerak menuju Kantor DPR Papua Pegunungan serta Kantor Dinas Pendidikan setempat. Sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Tolak MBG” dan “Kami Minta Sekolah Gratis”, para siswa menyampaikan orasi secara bergantian sepanjang perjalanan.

Para pelajar menilai program MBG bukanlah kebutuhan utama dan paling mendesak bagi dunia pendidikan di Tanah Papua saat ini. Mereka menuntut pemerintah agar memprioritaskan anggaran negara untuk peningkatan kualitas pendidikan dasar hingga tinggi.

“Kami minta sekolah gratis, bukan makanan gratis. Pemerintah semestinya lebih memprioritaskan pemenuhan hak pendidikan yang berkualitas sebelum menerapkan program berskala nasional,” tegas salah satu orator di lokasi aksi.

Soroti Darurat Fasilitas dan Keamanan Pangan

Sekretaris Penanggung Jawab SPWP, Sehan Kabak, menjelaskan bahwa demo ini merupakan wujud kepedulian para pelajar terhadap persoalan mendasar di Papua Pegunungan, seperti minimnya sarana-prasarana sekolah, kurangnya fasilitas belajar, hingga krisis tenaga pengajar (guru dan dosen) yang masih jauh dari kata memadai.

“Melalui aksi ini, kami meminta pemerintah lebih memprioritaskan pemenuhan hak pendidikan dan memastikan kebijakan yang dikeluarkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Kami juga mendesak agar ada pendidikan gratis di seluruh Indonesia, terutama di Tanah Papua,” ujar Sehan.

Selain persoalan mutu pendidikan, massa aksi juga menyoroti aspek keselamatan penerima manfaat. Mereka mendesak pemerintah pusat dan Pemprov Papua Pegunungan mengevaluasi standar keamanan pangan MBG, menyusul munculnya sejumlah laporan dugaan gangguan kesehatan penerima manfaat di berbagai daerah lain.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari tersebut berjalan dengan tertib, aman, dan damai. Sepanjang rute perjalanan, para pelajar mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan setempat hingga kegiatan selesai tanpa adanya insiden menonjol.