Lambeturah.co.id - Aksi ratusan pedagang Pasar Tanjung di depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember, Jawa Timur, pada Rabu (30/9/2026), berlangsung memanas. Massa meluapkan kekecewaan dengan melempar tomat, jambu air, serta sejumlah buah dan sayuran busuk ke arah halaman kantor pemkab.
Aksi tersebut dilakukan oleh pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pasar Tanjung bersama LSM Laskar Jahanam. Polisi dan anggota Satpol PP yang berada di lokasi turut terkena lemparan massa.
Demo yang mereka sebut sebagai aksi "G30S-PKI" atau Gerakan 30 September-Pedagang Kecil Indonesia itu berkaitan dengan rencana revitalisasi dan penataan Pasar Tanjung. Pedagang menilai kebijakan tersebut belum dikomunikasikan secara memadai dan berpotensi merugikan aktivitas mereka.
Selain membawa mobil pengeras suara berukuran besar, massa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemkab Jember. Mereka meminta penataan Pasar Tanjung dilakukan secara adil dan tidak diskriminatif, termasuk terkait pembatasan jam operasional dan penerapan sistem shift.
Pedagang juga mendesak pencopotan Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan serta Kepala Dinas Perhubungan Jember. Mereka turut mempersoalkan dugaan pemecahbelahan dan monopoli kepentingan dalam pengelolaan pedagang Pasar Tanjung.
"Kami pedagang mendesak agar bupati menata pedagang pasar secara adil dan tanpa diskriminasi," ujar Koordinator LSM Laskar Jahanam sekaligus koordinator lapangan aksi, Dwi Budi Agus.
Ketegangan semakin terasa ketika Wakil Bupati Jember Djoko Susanto datang untuk berdialog dengan massa. Kedatangannya ditolak oleh sebagian peserta aksi sehingga dialog langsung dengan wakil bupati tidak berlangsung.
Sementara itu, Bupati Jember Gus Fawait tidak dapat menemui massa karena sedang menjalankan tugas dinas di luar kota.
Perwakilan pedagang kemudian diterima dalam audiensi oleh Ketua DPRD Jember Ahmad Halim. Dalam pertemuan tersebut, Halim mengakui adanya persoalan komunikasi antara pemerintah daerah dan pedagang, termasuk sosialisasi kebijakan yang dinilai belum merata.
Halim menjelaskan bahwa penataan Pasar Tanjung dilakukan untuk menjaga ketertiban dan bukan untuk memutus mata pencaharian para pedagang.
Ia juga menyebut kapasitas los di Pasar Tanjung tercatat sebanyak 1.527 tempat, sementara jumlah pedagang aktif mencapai 2.114 orang. DPRD Jember berencana membentuk tim kecil untuk memverifikasi data tersebut.
"Kita akan undang mereka, para pihak pedagang pasar, ke dewan besok Jumat untuk dialog aspirasi," kata Halim.
Audiensi tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mencari solusi atas polemik penataan Pasar Tanjung, terutama terkait kapasitas pasar, jam operasional, dan sistem shift yang dipersoalkan pedagang.





