Lambeturah.co.id - Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mulai berdampak serius pada pasokan air bersih warga. Di tengah krisis air yang kian menghimpit, warga lereng Gunung Merbabu berpaling pada tradisi leluhur untuk memohon berkah hujan.

Pada Jumat (19/9/2026), warga Dukuh Dukuh, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali menggelar ritual kuno bernama Udan Dawet. Dipimpin oleh para sesepuh desa, warga berbondong-bondong menuju sendang keramat untuk melemparkan minuman dawet ke dalam air.

Warisan Kuno Sejak Era Mataram Tradisi unik ini diketahui telah bertahan selama ratusan tahun, diwariskan secara turun-temurun sejak era Mataram Kuno. Ritual Udan Dawet selalu digelar pada mongso kapat atau bulan keempat dalam penanggalan Jawa, yang identik dengan puncak musim kemarau.

Dawet bukan sekadar minuman dalam tradisi ini. Bagi masyarakat setempat, dawet diposisikan sebagai simbol kenikmatan duniawi serupa dengan air hujan yang menjadi kenikmatan dan sumber kehidupan paling dinanti di musim kemarau.

Aksi melempar dawet ke sendang keramat secara simbolis menggambarkan hujan deras yang mengguyur dan membasahi seisi desa.

Dampak Kemarau: Warga Terpaksa Beli Air Pelaksanaan tradisi ini bertepatan dengan kondisi kekeringan yang kian mengkhawatirkan di Kabupaten Boyolali. Beberapa daerah, termasuk Desa Banyuanyar, mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Penyusutan debit air di sumber-sumber lokal memaksa sebagian warga mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air bersih demi kebutuhan sehari-hari.

Bagi warga Banyuanyar, ritual Udan Dawet bukan sekadar ajang menjaga warisan budaya kuno, melainkan manifestasi dari doa dan harapan sederhana: semoga hujan segera turun, membawa kelimpahan air, serta memberikan keberkahan bagi seluruh masyarakat di lereng Merbabu.