Lambeturah.co.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengusulkan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi program pemenuhan kebutuhan nutrisi siswa, tetapi juga diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah.

Usulan tersebut bertujuan agar para siswa memahami pentingnya makanan bergizi bagi kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan tubuh. Dengan demikian, anak-anak tidak sekadar menerima dan mengonsumsi makanan gratis, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai kandungan nutrisi dari makanan yang mereka santap.

Gagasan itu disampaikan Sudaryono melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, pada Minggu (25/10/2026).

Pria yang akrab disapa Mas Dar tersebut menilai edukasi gizi dapat dimasukkan ke dalam pembelajaran sekolah, sebagaimana mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes).

Menurutnya, program MBG memiliki peluang untuk menjadi sarana pembelajaran langsung bagi siswa agar lebih memahami pola makan sehat sejak dini.

Sudaryono Ingin MBG Tak Sekadar Program Makan Gratis

Sudaryono menilai pelaksanaan MBG dapat memberikan manfaat lebih luas apabila disertai pendidikan mengenai gizi dan kesehatan.

Ia mengusulkan agar edukasi terkait program tersebut menjadi bagian dari kurikulum pendidikan sehingga siswa mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai makanan bergizi.

"Jadi bagaimana memasukkan MBG atau edukasi gizi ini menjadi salah satu bagian dari kurikulum yang ada di pendidikan, sama seperti penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan). Dia kan olahraga dimasukkan ke mata pelajaran," kata Sudaryono.

Melalui konsep tersebut, kegiatan makan di sekolah diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi guru untuk menjelaskan manfaat berbagai jenis makanan yang dikonsumsi siswa.

Dengan begitu, siswa dapat mengetahui bahwa setiap makanan memiliki kandungan nutrisi dan fungsi yang berbeda bagi tubuh.

Siswa Bisa Belajar Manfaat Protein, Vitamin, dan Mineral

Materi edukasi gizi yang diusulkan dapat mencakup pengetahuan dasar mengenai kandungan makanan serta manfaatnya bagi kesehatan.

Misalnya, siswa dapat mempelajari fungsi protein untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh, manfaat vitamin dan mineral, serta pentingnya mengonsumsi sayur dan buah sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Pembelajaran juga dapat dikaitkan langsung dengan menu MBG yang disajikan setiap hari di sekolah.

Ketika siswa mendapatkan makanan dengan menu tertentu, guru dapat memberikan penjelasan mengenai kandungan nutrisi di dalamnya dan manfaatnya bagi tubuh.

Dengan pendekatan tersebut, pemahaman mengenai gizi diharapkan tidak hanya diperoleh melalui teori di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari.

Sudaryono menegaskan bahwa tujuan gagasan tersebut adalah menjadikan program MBG sebagai ruang pembelajaran bagi anak-anak.

"Jadi bukan hanya makan, tapi ada pelajarannya. MBG bisa menjadi ruang belajar. Anak menikmati makanan, mengenal kandungan gizinya, dan memahami kebutuhan tubuhnya," ujarnya.