Lambeturah.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkenalkan pesawat kepresidenan baru Air Force One yang berasal dari hadiah pemerintah Qatar. Pesawat Boeing 747-8 VIP tersebut memiliki nilai fantastis mencapai US$400 juta atau sekitar Rp7,13 triliun.
Meski diterima secara cuma-cuma, Amerika Serikat tetap harus mengeluarkan dana besar untuk mengubah pesawat tersebut menjadi Air Force One yang memenuhi standar keamanan presiden. Biaya modifikasi diperkirakan mencapai US$1 miliar atau sekitar Rp17,8 triliun.
Menurut laporan Forbes, keluarga kerajaan Qatar memang tengah mengurangi armada Boeing 747 yang dikenal memiliki biaya operasional dan perawatan sangat tinggi. Dengan menyerahkan pesawat tersebut kepada Amerika Serikat, Qatar tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga memperkuat hubungan diplomatik dengan Washington.
Namun, pesawat itu belum dapat langsung digunakan oleh Presiden AS. Pemerintah Amerika harus memasang berbagai sistem khusus, mulai dari perangkat komunikasi rahasia, sistem pertahanan rudal, hingga teknologi keamanan tingkat tinggi yang menjadi standar Air Force One.
Hadiah mewah dari Qatar ini sempat menuai kritik karena nilainya jauh melebihi batas hadiah yang boleh diterima pejabat federal Amerika Serikat, yakni hanya US$50 per tahun dari satu sumber yang sama.
Menanggapi kritik tersebut, Trump menyebut akan menjadi tindakan yang "bodoh" jika menolak pesawat bernilai ratusan juta dolar itu. Sementara itu, juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa penerimaan pesawat Boeing 747 dari Qatar telah dilakukan sesuai aturan dan regulasi federal yang berlaku.
Trump juga memberikan pujian kepada Emir Qatar atas pemberian tersebut. Menurutnya, pesawat itu merupakan salah satu pesawat paling mewah yang pernah dibuat.
"Ini dianggap sebagai pesawat paling mewah di dunia. Saat dibangun, kualitasnya dibuat pada tingkat yang mungkin tidak akan pernah terlihat lagi," ujar Trump.
Presiden AS itu menilai Air Force One baru diperlukan agar Amerika Serikat tidak tertinggal dari negara-negara lain yang telah menggunakan pesawat kepresidenan lebih modern. Saat ini, armada Air Force One yang digunakan berupa VC-25A telah beroperasi sejak 1990 pada era Presiden George H.W. Bush.
Pesawat hadiah dari Qatar tersebut akan menggunakan kode VC-25B dan hanya berstatus sebagai pesawat sementara atau interim. Kehadirannya dimaksudkan untuk mengisi kekosongan sambil menunggu dua pesawat Air Force One generasi terbaru yang masih dalam proses produksi dan dijadwalkan dikirim pada 2027 dan 2028.
Di sisi lain, biaya konversi yang mencapai US$1 miliar memicu kekhawatiran sejumlah pihak. Mereka menilai anggaran tersebut berpotensi mengganggu pendanaan program modernisasi rudal balistik antarbenua (ICBM) Sentinel yang saat ini juga mengalami keterlambatan.
Sementara itu, pengadaan dua Air Force One baru yang telah dipesan sebelumnya juga mengalami pembengkakan biaya dari US$3,7 miliar menjadi sekitar US$5 miliar.
Pesawat VC-25A bernomor ekor 29000 yang selama ini digunakan sebagai Air Force One diketahui sedang memasuki masa pensiun. Sedangkan VC-25A bernomor ekor 28000 masih akan tetap beroperasi bersama VC-25B hingga armada Air Force One generasi terbaru resmi diterima pemerintah Amerika Serikat.
Menariknya, VC-25B hadiah dari Qatar akan tampil dengan livery berbeda. Jika Air Force One selama ini identik dengan warna biru muda dan putih, pesawat baru tersebut mengusung desain yang lebih mirip dengan pesawat pribadi milik Donald Trump.





