Lambeturah.co.id - Siapa sangka sagu yang selama ini dikenal sebagai salah satu pangan khas Papua bisa diolah menjadi es krim dan menghasilkan omzet jutaan rupiah dalam sehari.
Hal itu dibuktikan Welmins Tukayo. Di tengah gelaran Festival Danau Sentani (FDS) XV di Sentani, Papua, Welmins berjualan es krim berbahan dasar sagu dengan cara sederhana, yakni mendorong gerobak sendiri mengelilingi area festival.
Bukan sekadar mencari keuntungan, Welmins juga ingin menunjukkan kepada generasi muda bahwa bekerja dan berusaha dengan tangan sendiri bukanlah sesuatu yang memalukan.
Dalam kondisi ramai selama FDS XV, penjualan es krim sagu miliknya melonjak tajam. Dalam sehari, satu gerobak dapat menjual sekitar 700 hingga 800 mangkuk dengan harga Rp10.000 per porsi.
Dengan jumlah tersebut, omzet yang diperoleh Welmins mencapai sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta per hari.
“Kalau satu gerobak habis, biasa 700 mangkuk lebih. Satu mangkuk Rp10.000. Kalau 800 porsi, sekitar Rp8 juta. Paling kasar Rp7 juta per hari,” kata Welmins saat ditemui di lokasi FDS XV, Sentani, Sabtu (5/9/2026).
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan penjualan pada hari biasa. Welmins mengatakan, di luar momentum festival, omzet es krim sagunya terkadang hanya sekitar Rp200 ribu per hari.
Selama FDS XV berlangsung, ia bahkan mengaku sudah menghabiskan sekitar lima gerobak es krim sagu.
“Saya mau bersyukur sekali. Lima gerobak sudah habis,” ujarnya.
Tak Malu Dorong Gerobak
Welmins tidak hanya mengandalkan promosi dari tempat berjualan. Ia memilih turun langsung mendorong gerobaknya di tengah keramaian festival.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan kepada anak-anak muda Papua.
“Saya jual es krim sagu ini untuk memotivasi anak-anak supaya mereka bisa berupaya untuk hidup. Hidup itu harus diusahakan dan diperjuangkan,” kata Welmins.
Ia juga menegaskan bahwa pekerjaan apa pun yang dilakukan secara jujur tidak perlu membuat seseorang merasa malu.
“Saya dorong gerobak supaya semua lihat, oh begini cara mencari uang. Asal kita tidak mencuri, itu prinsip,” ujarnya.
Menariknya, Welmins sebenarnya memiliki pekerjaan tetap. Ia merupakan aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Kesehatan Provinsi Papua.
Selain menjadi ASN, ia juga mengajar sebagai dosen di Universitas Cenderawasih dan Poltekkes Kemenkes Jayapura.
Meski memiliki pekerjaan sebagai ASN dan pengajar, Welmins tidak memandang usaha berjualan es krim sebagai pekerjaan rendahan. Baginya, setiap pekerjaan yang dilakukan secara halal dan jujur memiliki nilai.
Sulap Sagu Jadi Es Krim
Es krim yang dijual Welmins juga memiliki keunikan tersendiri karena menggunakan sagu sebagai bahan utama.
Sagu mentah terlebih dahulu dikeringkan dan disangrai hingga mengalami perubahan warna. Setelah itu, sagu dicampurkan dengan bahan lainnya sebelum diolah hingga menjadi es krim.
Inovasi tersebut membuat pangan lokal Papua tampil dalam bentuk yang lebih modern dan memiliki nilai ekonomi.
Bagi Welmins, sagu memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif. Menurutnya, sagu tidak seharusnya hanya dipandang sebagai makanan pokok masyarakat Papua.
Festival Danau Sentani XV pun menjadi salah satu ruang baginya untuk memperkenalkan inovasi tersebut kepada masyarakat.
Welmins mengaku sudah tiga kali memanfaatkan momentum FDS sebagai tempat berjualan. Setiap festival digelar, ia melihat adanya peluang untuk memperkenalkan produk sekaligus menguji respons masyarakat terhadap olahan sagu.
Ia berharap festival seperti FDS tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, budaya, dan hiburan. Menurutnya, kegiatan tersebut juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempromosikan produk lokal, mengembangkan kreativitas, sekaligus membuka peluang ekonomi.
Dari satu mangkuk es krim sagu seharga Rp10.000, Welmins ingin menyampaikan pesan yang lebih besar kepada generasi muda Papua: bahan pangan lokal dapat diolah menjadi peluang usaha, sementara pekerjaan apa pun yang dilakukan dengan jujur tetap memiliki kehormatan.





