Lambeturah.co.id — Seorang customer layanan GoCar mengaku mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari pengemudi saat hendak menggunakan layanan transportasi online. Perselisihan tersebut bermula ketika customer menghubungi driver untuk memastikan apakah pesanan akan diambil.
Berdasarkan keterangan yang beredar diakun Sosial Media dan Viral, unggahan tersebut mengaku sejak awal komunikasi sudah merasa tidak nyaman. Driver disebut menjawab dengan nada yang dinilai ketus dan meminta customer memantau posisi kendaraan melalui aplikasi Maps.
Saat tiba di lokasi, customer menyebut kendaraan berhenti agak jauh dari titik penjemputan tanpa memberikan konfirmasi. Customer kemudian menghampiri kendaraan tersebut untuk menanyakan alasan titik penjemputan yang tidak sesuai.
Namun, bukannya mendapatkan penjelasan atau permintaan maaf, customer mengaku justru mendapat teguran ketika menanyakan apakah driver akan mengambil pesanannya.
Driver disebut berdalih bahwa dirinya telah berusaha menghubungi customer, tetapi tidak mendapatkan respons. Di sisi lain, customer mengaku telah mencoba menelepon kembali, tetapi panggilan tersebut tidak diangkat.
Situasi kemudian berkembang menjadi perdebatan. Driver juga disebut mempermasalahkan pilihan layanan GoCar Hemat yang digunakan oleh customer.
Perdebatan semakin memanas hingga driver meminta customer membatalkan perjalanan dan turun dari kendaraan.
Yang kemudian menjadi sorotan adalah rekaman percakapan yang beredar. Dalam rekaman tersebut, driver diduga melontarkan sejumlah kata-kata kasar kepada customer, termasuk menyebut customer dengan kata “goblok” dan “anjing”.
Peristiwa tersebut pun mendapat perhatian setelah kisahnya diunggah ke media sosial. Unggahan tersebut memperlihatkan situasi dari dalam kendaraan sekaligus memuat kronologi yang disampaikan terkait dugaan perlakuan kasar tersebut.
Perselisihan antara penumpang dan pengemudi transportasi online sebenarnya dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk perbedaan titik penjemputan, komunikasi yang tidak tersambung, maupun kesalahpahaman mengenai pesanan.
Namun, dugaan penggunaan kata-kata kasar dalam interaksi antara driver dan customer menjadi perhatian tersendiri. Apalagi, layanan transportasi online mengandalkan komunikasi antara pengemudi dan penumpang untuk memastikan perjalanan berlangsung aman dan nyaman.
Dalam kasus ini, keterangan yang beredar masih berasal dari pihak customer serta rekaman percakapan yang diunggah. Karena itu, penilaian akhir mengenai kronologi dan tindakan masing-masing pihak tetap perlu menunggu klarifikasi dari pihak-pihak terkait.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan di lapangan sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi yang baik tanpa menggunakan kata-kata yang berpotensi memperkeruh keadaan.





