Lambeturah.co.id– Kisah pilu seorang pelari perempuan yang gagal menuntaskan ajang Jakarta Running Festival (JRF) 2026 menjadi sorotan di media sosial.

Pelari bernama Aulia Fatul Fuadah itu mengungkapkan kekecewaannya setelah perjuangan menjalani latihan selama enam bulan harus berakhir tanpa mencapai garis finis akibat kecelakaan lima hari sebelum perlombaan.

Curahan hati tersebut beredar melalui akun sosial media dan dikutip kembali Selasa (27/10/2026), dalam Unggahan Aulia menceritakan bagaimana insiden kecelakaan yang dialaminya menjelang hari perlombaan berdampak pada persiapannya mengikuti ajang lari tersebut.

Bagi Aulia, mengikuti JRF 2026 bukan sekadar berlari hingga mencapai garis finis. Ada waktu, tenaga, biaya, dan berbagai pengorbanan yang telah dicurahkan selama berbulan-bulan demi mewujudkan targetnya.

Namun, kecelakaan yang terjadi pada H-5 perlombaan membuat rencana yang telah disusun dengan matang menjadi tidak berjalan sesuai harapan.

Dalam ceritanya, Aulia mengungkapkan bahwa ketika kecelakaan terjadi, dirinya belum merasakan sakit. Pikiran yang muncul saat itu justru tertuju pada perlombaan yang akan diikutinya beberapa hari kemudian.

Ia mengaku langsung memikirkan nasib keikutsertaannya dalam Jakarta Running Festival, terlebih dirinya telah menjalani persiapan panjang untuk menghadapi tantangan tersebut.

Aulia bahkan mengingat kalimat yang disampaikannya kepada pengendara motor yang terlibat dalam insiden tersebut.

“Mas hari Minggu saya ini mau lomba lari,” demikian kalimat yang diceritakan Aulia dalam unggahannya.

Pengakuan tersebut menggambarkan betapa pentingnya perlombaan itu bagi dirinya. Setelah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berlatih, ia tentu berharap dapat menjalani lomba sesuai rencana.

Setelah mengalami kecelakaan, Aulia berupaya memulihkan kondisinya agar tetap memiliki kesempatan mengikuti JRF 2026.

Ia menyebut telah menjalani sejumlah upaya pemulihan sejak Selasa, mulai dari fisioterapi, terapi laser, hingga beristirahat penuh.

Aulia juga menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis kedokteran olahraga (Sp.KO) dua hari sebelum perlombaan. Berdasarkan pengakuannya, ia mendapatkan izin untuk mengikuti lomba karena saat pemeriksaan tidak merasakan sakit.

Dengan kondisi tersebut, Aulia tetap mencoba mewujudkan target yang telah dipersiapkan selama enam bulan. Ia pun memulai perlombaan dengan harapan bisa menyelesaikannya hingga garis finis.

Perjuangan Aulia ternyata tidak berjalan mulus. Saat memasuki tanjakan di kilometer keenam, ia mulai merasakan sakit kembali.

Kondisinya semakin terasa berat ketika mencapai kilometer ke-13. Meski demikian, Aulia masih berusaha melanjutkan perlombaan dan bertahan di lintasan.

Ia terus berlari hingga mencapai kilometer ke-32. Namun, rasa sakit yang semakin sulit ditahan akhirnya membuatnya mengambil keputusan untuk berhenti.

Impian menuntaskan perlombaan yang telah dipersiapkan selama enam bulan pun harus tertunda.

Aulia mengungkapkan kesedihannya melalui unggahan yang kemudian menarik perhatian warganet.

“KERJA KERAS 6 BULAN HANCUR KARENA TRAGEDI H-5,” tulisnya dalam unggahan yang ditujukan kepada akun Jakarta Running Festival.

Ungkapan tersebut menggambarkan kekecewaan setelah persiapan panjang yang telah dilakukan harus berhadapan dengan kejadian tak terduga menjelang hari perlombaan.

Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa dalam olahraga ketahanan seperti maraton, persiapan fisik dan mental perlu diimbangi dengan kondisi tubuh yang memungkinkan untuk bertanding.

Meski telah berlatih keras dan berupaya menjalani pemulihan, kondisi fisik tetap menjadi faktor penting yang harus diperhatikan ketika mengikuti perlombaan jarak jauh.

Kisah Aulia pun menyita perhatian karena memperlihatkan sisi lain dari sebuah ajang lari. Di balik target waktu, jarak tempuh, dan garis finis, terdapat perjuangan personal yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Bagi Aulia, kegagalan menyelesaikan JRF 2026 menjadi pengalaman pahit setelah melewati persiapan panjang. Namun, keputusannya berhenti ketika rasa sakit tidak lagi tertahankan juga menunjukkan pentingnya mempertimbangkan kondisi tubuh saat berolahraga.