Lambeturah.co.id — Pelaksanaan acara kirab budaya di Pura Mangkunegaran, Solo, mendadak menjadi sorotan publik dan memicu kontroversi di media sosial. Hal ini terjadi setelah beredarnya sebuah foto yang memperlihatkan seorang pria mengenakan busana kebaya beludru hitam saat mengikuti rute prosesi sakral tersebut. Tindakan tersebut dinilai oleh sebagian masyarakat tidak menghargai pakem adat Jawa yang berlaku.

Potret tersebut menjadi perbincangan hangat setelah diunggah dan dibahas oleh sejumlah netizen di platform media sosial Threads. Berbagai komentar miring hingga hujatan dilayangkan kepada pria tersebut. Mayoritas warganet mempertanyakan penggunaan busana itu karena dinilai melanggar aturan berpakaian (dress code) resmi yang umumnya telah tercantum secara ketat di dalam undangan acara keraton.

Menanggapi riuhnya kritik dari netizen, pihak kerabat serta rekan yang mendampingi pria tersebut segera memberikan klarifikasi melalui kolom komentar. Berdasarkan tangkapan layar yang beredar, akun salah satu tokoh publik, Paola Serena, menjelaskan bahwa penggunaan pakaian tersebut bukanlah bentuk pelanggaran sepihak, melainkan sudah mendapatkan izin langsung dari pihak penyelenggara atau pemilik acara (Gusti Pura Mangkunegaran).

"Karena yang punya acara mengizinkan," tulis akun @paola.serena saat menjawab pertanyaan dari netizen yang penasaran terkait alasan di balik penggunaan kebaya oleh seorang pria.

Tidak hanya itu, pembelaan lain juga muncul dari rekan sesama tamu undangan dengan akun @rahadianms. Ia menekankan pandangan modern terkait fesyen kontemporer, dengan menyatakan bahwa pakaian pada dasarnya bersifat universal. "Karena pakaian tidak punya jenis kelamin kawan," ujarnya dalam kolom komentar guna meredam hujatan yang terus mengalir.

Kendati demikian, penjelasan tersebut tidak serta-merta meredakan perdebatan. Beberapa netizen lain justru mempertanyakan lebih lanjut mengenai kebenaran izin tersebut kepada para petinggi dan keluarga Pura Mangkunegaran, seperti Gusti Bhre (KGPAA Mangkunegara X) dan GPH Paundrakarna, mengingat sakralnya prosesi kirab adat yang digelar.

Hingga saat ini, perdebatan mengenai batasan ekspresi busana modern di tengah ruang lingkup upacara adat tradisional masih terus menuai pro dan kontra yang tajam di kalangan netizen Indonesia.