Lambeturah.co.id – Aksi sepasang orang tua yang mengajak anaknya berusia 3 tahun mendaki Bukit Biru di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menjadi sorotan publik. Video yang memperlihatkan balita tersebut melewati jalur terjal tanpa perlengkapan keselamatan memadai viral di media sosial dan menuai kritik warganet.

Dalam rekaman yang beredar, terlihat satu keluarga tengah menuruni jalur ekstrem Bukit Biru. Seorang balita tampak berjalan melewati medan berbatu dengan kondisi jalan yang cukup curam.

Kondisi tersebut semakin mengundang kekhawatiran lantaran anak itu hanya mengenakan kaus, celana pendek, dan sandal. Tidak terlihat adanya perlengkapan pengaman khusus yang digunakan untuk melindungi keselamatannya selama melewati jalur pendakian.

Dikutip dari berita yang beredar, Kamis (5/11/2026), video tersebut berasal dari unggahan Instagram @jejakpendaki. Rekaman itu memperlihatkan sang ibu beberapa kali mengingatkan anaknya agar terus berpegangan ketika melewati jalur menurun yang cukup terjal.

"Pegangan mama," ujar sang ibu berulang kali kepada balitanya.

Dalam video tersebut, balita itu terlihat diarahkan untuk melewati jalur berbatu dengan berpegangan pada bagian sekitar jalur pendakian.

Sang ibu juga beberapa kali menggendong anaknya ketika melewati medan yang dinilai cukup sulit. Sementara itu, seorang pria yang diduga ayah dari balita tersebut terlihat berjalan dan mengawasi dari belakang.

Meski terdapat tali tambang yang menjuntai di sepanjang jalur untuk membantu pendaki menjaga keseimbangan ketika turun, balita tersebut tidak terlihat menggunakan perlengkapan keselamatan khusus.

Kondisi ini menjadi perhatian karena anak seusia 3 tahun belum memiliki kemampuan keseimbangan dan koordinasi tubuh seperti orang dewasa. Terlebih, jalur berbatu dengan kemiringan tajam berpotensi membuat pendaki terpeleset atau kehilangan keseimbangan.

Video tersebut dengan cepat menyebar dan menjadi perbincangan di kalangan pengguna media sosial, khususnya komunitas pendakian.

Banyak warganet menyayangkan keputusan orang tua yang membawa anak berusia 3 tahun melewati jalur dengan medan ekstrem tanpa perlengkapan keselamatan yang memadai.

Sebagian warganet menilai keselamatan anak seharusnya menjadi pertimbangan utama sebelum orang tua memutuskan melakukan aktivitas pendakian.

Kritik juga muncul karena anak kecil dinilai belum sepenuhnya mampu memahami risiko ketika harus melewati medan yang berbahaya.

Tidak sedikit pula yang mempertanyakan alasan orang tua tidak memilih destinasi wisata lain dengan jalur yang lebih aman dan ramah anak.

Peristiwa ini kembali memunculkan perdebatan mengenai batasan usia dan kesiapan anak ketika diajak melakukan aktivitas pendakian.

Mengenalkan alam kepada anak memang dapat menjadi pengalaman positif. Namun, kegiatan tersebut tetap harus disesuaikan dengan usia, kemampuan fisik, kondisi kesehatan, serta tingkat kesulitan medan yang akan dilalui.

Orang tua juga perlu memastikan tersedianya perlengkapan keselamatan yang sesuai, termasuk perlindungan dari cuaca dan kondisi jalur pendakian.

Sebelumnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga mengingatkan bahwa anak kecil memiliki kemampuan adaptasi tubuh yang berbeda dibandingkan orang dewasa, terutama ketika menghadapi perubahan suhu dan kondisi lingkungan ekstrem.

Karena itu, orang tua disarankan memulai aktivitas alam dari jalur ringan dengan durasi singkat dan pengawasan penuh.

Pada akhirnya, tujuan mengajak anak berwisata alam bukan sekadar mencapai puncak atau mengikuti tren pendakian, melainkan memberikan pengalaman menyenangkan tanpa mengabaikan keselamatan.