Lambeturah.co.id - Di era digital saat ini, format konten video pendek yang absurd, random, dan cepat silih berganti telah menjadi hiburan sehari-hari masyarakat. Tanpa disadari, kebiasaan terus menerus menggulir (scrolling) layar ponsel demi konten hiburan receh ini memicu fenomena psikologis baru yang dikenal dengan istilah “Brain Rot” atau pembusukan otak.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Prof. Zulys, menjelaskan bahwa brain rot bukanlah sebuah penyakit medis resmi, melainkan sebuah fenomena nyata di mana kemampuan berpikir seseorang mengalami penurunan akibat paparan konten digital yang terlalu cepat dan dangkal.

“Artikel ilmiah menunjukkan brain rot dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir karena terlalu banyak konsumsi konten receh, cepat, dan dangkal. Bahkan sekarang, ini sudah dianggap sebagai genre hiburan tersendiri,” ujar Prof. Zulys dalam tayangan Behind The Science.

Mengapa Konten Brain Rot Bikin Kecanduan?

Secara sains, fenomena brain rot sangat erat kaitannya dengan sistem molekul kimia di dalam otak manusia. Prof. Zulys mengungkapkan bahwa setiap kali kita melihat video lucu atau mendapatkan informasi baru yang mengejutkan, otak akan melepaskan dopamin—molekul yang bertanggung jawab atas rasa bahagia dan sistem penghargaan (reward system) otak.

Karakteristik konten brain rot yang super cepat dan penuh kejutan memicu lonjakan dopamin secara terus-menerus.

"Hasilnya, otak memberi sinyal: kalau mau senang, scroll lagi. Dari sinilah terbentuk kecanduan digital," tambahnya.

Dampak Buruk Terhadap Fungsi Otak

Pada dasarnya, otak manusia dirancang untuk fokus dan berpikir secara mendalam. Namun, konsumsi konten pendek yang terlalu intensif justru merusak mekanisme tersebut. Beberapa dampak buruk brain rot pada fungsi kognitif orang dewasa maupun remaja meliputi:

1.      Kerusakan Fokus dan Atensi: Seseorang menjadi tidak sabar dan tidak tahan menonton video atau membaca informasi yang berdurasi lebih dari satu menit.

2.      Melemahnya Daya Ingat: Informasi yang diterima terlalu cepat sehingga tidak sempat diproses ke dalam ingatan jangka panjang (long-term memory).

3.      Penurunan Kognitif: Sulit membuat keputusan, menjadi lebih reaktif terhadap stimulus, dan kurang reflektif dalam bertindak.

Ancaman Nyata bagi Anak-Anak dan Remaja

Dampak brain rot jauh lebih berbahaya jika terjadi pada anak-anak dan remaja yang pertumbuhan otaknya belum sempurna. Menurut Prof. Zulys, anak-anak yang terpapar fenomena ini cenderung kesulitan fokus belajar, cepat bosan, mengalami ketergantungan gadget, hingga mengalami gangguan emosi. Dalam jangka panjang, risiko depresi dan gangguan perkembangan kecerdasan bisa meningkat drastis.

Prof. Zulys juga menegaskan bahwa fenomena ini marak bukan karena anak-anak zaman sekarang bermental lemah, melainkan karena mereka berhadapan dengan sistem teknologi yang masif.

“Sistemnya memang dirancang begitu. Ada algoritma platform yang tahu apa yang membuat kita menonton lama. Kesenangan instan, tidak perlu mikir, sudah bisa langsung senang,” jelasnya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak memilah konsumsi media digital. Hiburan yang memancing tawa adalah hal yang sehat, namun menjadi berbahaya jika hiburan tersebut justru menghentikan fungsi berpikir kita.

"Kalau hiburan membuat kita tertawa, itu sehat. Tapi kalau hiburan membuat kita berhenti berpikir, itu cara pelan mematikan otak kita," pungkasnya.