Lambeturah.co.id - Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan dampak riil yang merembet ke berbagai sektor konsumsi masyarakat. Tidak hanya memukul industri skala besar, gejolak ekonomi ini kini mulai dirasakan langsung oleh para pencinta hewan peliharaan (pet lovers) hingga konsumen komoditas pangan harian.
Harga Pakan Kucing Impor Melejit, Omzet Pedagang Tertekan
Salah satu dampak paling signifikan dari merosotnya kurs rupiah terlihat pada lonjakan harga makanan hewan peliharaan, khususnya pakan kucing impor. Karena sebagian besar bahan baku dan produk jadi pakan premium masih didatangkan dari luar negeri, para distributor terpaksa menyesuaikan harga jual akibat tingginya biaya logistik dan transaksi dalam mata uang dolar AS.
Kenaikan harga ini dikeluhkan oleh para pelaku usaha pet shop. Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan harga pakan kucing berkisar antara 10 hingga 20 persen dari harga normal. Akibatnya, daya beli masyarakat menurun dan berujung pada merosotnya omzet penjualan para pedagang secara drastis. Banyak pemilik hewan peliharaan kini mulai beralih ke merek lokal atau mengurangi porsi pembelian harian mereka demi menghemat pengeluaran.
Di sisi lain, tekanan ekonomi tidak hanya bersumber dari faktor eksternal global. Di dalam negeri, rantai pasok pangan juga tengah menghadapi tantangan berat. Di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, harga sejumlah komoditas buah-buahan dilaporkan mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Kondisi ini dipicu oleh dua faktor utama:
• Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM): Meningkatnya biaya transportasi logistik dari daerah pendistribusi menuju ibu kota otomatis mendongkrak biaya operasional pedagang.
• Menipisnya Stok Petani: Faktor cuaca dan kendala panen menyebabkan pasokan buah-buahan dari daerah sentra produksi ke pasar induk menjadi terbatas.
"Stok barang dari petani memang lagi tipis, ditambah ongkos angkut yang naik karena BBM. Mau tidak mau harga jual ke konsumen harus disesuaikan," ujar salah satu pedagang di Pasar Induk Kramat Jati.
Kombinasi antara pelemahan rupiah, penyesuaian harga BBM, dan keterbatasan stok pangan lokal ini menjadi alarm bagi stabilitas daya beli masyarakat. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi kebijakan, dikhawatirkan angka inflasi akan semakin meningkat di tengah masyarakat.





