Lambeturah.co.id - Belakangan ini, jagat media sosial kembali dihangatkan oleh diskusi kritis mengenai batasan komedi dan etika para pembuat konten (content creator). Salah satu sorotan tajam datang dari praktisi kesehatan, dr. Adam Prabata, melalui unggahan di platform Threads, yang mengecam keras maraknya video hiburan yang mengeksploitasi keterbatasan fisik maupun mental sebagai bahan lelucon.

Tindakan menjadikan kondisi fisik penyandang disabilitas sebagai bahan gurauan dinilai bukan lagi sekadar hiburan biasa, melainkan telah masuk dalam kategori ableism. Ableism sendiri merupakan bentuk prasangka, stereotipe, dan diskriminasi sistemik terhadap penyandang disabilitas yang memandang mereka lebih rendah atau tidak mampu dibandingkan individu nondisabilitas.

"Video kaya begini termasuk ke dalam ableism yang merupakan bentuk prasangka dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Hitungannya sudah MERENDAHKAN mereka! Hal-hal kaya begini yang dinormalisasi, apalagi dijadikan konten hiburan, hitungannya GAK LUCU!" tulis dr. Adam Prabata dalam unggahan kritisnya.

Bahaya Mental: Dari Rasa Malu hingga Gejala Depresi

Normalisasi komedi bernuansa ableism di ruang digital membawa dampak nyata yang merusak. Sejumlah penelitian ilmiah membuktikan bahwa penyandang disabilitas yang terus-menerus menyaksikan perilaku diskriminatif berkedok humor ini berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental.

Pola paparan media yang toksik ini memicu munculnya rasa malu yang mendalam akibat internalisasi pandangan negatif tersebut (internalised ableism). Ketika perasaan bersalah dan malu tersebut terakumulasi, korban rentan mengalami gejala klinis depresi serta kecemasan (anxiety) yang parah.

Lebih jauh lagi, ruang digital yang tidak aman ini membuat korban kerap mengalami ejekan beruntun, perundungan siber (cyberbullying), hingga terpaksa melakukan pembatasan diri dalam berekspresi (self-censorship) akibat ketakutan akan intimidasi lebih lanjut.

Studi Jurnal 2024: Klaim "Hanya Bercanda" Tidak Lagi Valid

Sering kali, para pembuat konten membela diri dengan dalih universal: "hanya bercanda" atau tidak berniat buruk. Namun, sains secara tegas membantah pembelaan tersebut.

Sebuah studi terbaru pada tahun 2024 yang dipublikasikan dalam Journal of Media Psychology secara khusus meneliti tentang humor disabilitas. Hasil penelitian tersebut menemukan fakta komparatif yang mengkhawatirkan:

Aspek Dampak

Temuan Studi Jurnal Kontekstual

Persepsi Publik

Humor disabilitas secara masif memperkuat stereotipe negatif di masyarakat.

Aspek Psikososial

Mengikis rasa empati penonton umum terhadap kondisi riil penyandang disabilitas.

Kondisi Korban

Menyebabkan tekanan emosional (emotional distress) yang nyata bagi komunitas disabilitas, mengabaikan apa pun intensi awal si pembuat konten.

Melalui edukasi dan teguran keras dari para tokoh publik dan praktisi, masyarakat serta para pembuat konten diharapkan mulai berbenah diri. Komedi seharusnya menyatukan dan menghibur tanpa harus mengorbankan martabat kelompok rentan. Sudah saatnya ruang digital Indonesia bersih dari humor diskriminatif demi menciptakan lingkungan yang inklusif, sehat, dan ramah bagi semua kalangan.