Lambeturah.co.id - Pulau Lombok tidak hanya terkenal dengan keindahan alam bawah laut dan pantainya yang memukau, tetapi juga kaya akan warisan tradisi leluhur yang masih terjaga kelestariannya. Salah satu tradisi yang hingga kini masih melekat kuat di tengah masyarakat Suku Sasak adalah ritual Perak Api (atau sering disebut Peraq Api / Pedaq Api).
Tradisi unik ini merupakan ritual sakral yang dilakukan pasca-kelahiran seorang bayi, tepatnya ketika tali pusar bayi tersebut telah terlepas (gugur pusar). Biasanya, ritual ini diselenggarakan pada hari ketujuh hingga kesembilan setelah kelahiran.
Bagi masyarakat Sasak, Perak Api bukan sekadar perayaan biasa, melainkan momentum penting untuk meresmikan pemberian nama sang buah hati sekaligus penanda berakhirnya masa berupu—yaitu tradisi menghangatkan diri di atas asap kayu bagi ibu yang baru melahirkan.
Prosesi Unik di Atas Bara Api
Dalam pelaksanaannya, ritual ini dipimpin oleh seorang Belian Nganak (dukun beranak tradisional Suku Sasak). Prosesi dimulai dengan menyiapkan bara api yang berasal dari sabut kelapa kering di atas wadah tanah liat, kemudian ditaburi wewangian alami seperti kemenyan atau daun lemundi.
Secara simbolis, bayi akan digendong oleh Belian atau sang ibu, lalu diputar dengan hati-hati di atas kepulan asap dari bara tersebut sebanyak sembilan kali. Angka sembilan ini merujuk pada jumlah bulan bayi berada di dalam kandungan.
Setelah prosesi pengasapan selesai, perapian tersebut kemudian dipadamkan. Kata "Perak" dalam bahasa Sasak sendiri memang memiliki arti memadamkan, sehingga "Perak Api" secara harfiah berarti memadamkan api.
Membisikkan Nama dan Doa Keselamatan
Puncak dari tradisi ini adalah pembacaan doa dan pemberian nama. Sambil memegang sang bayi, Belian Nganak akan membisikkan kalimat Dua Kalimat Syahadat dan selawat ke telinga bayi, disusul dengan menyebutkan nama resmi yang telah dipilih oleh kedua orang tuanya.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Menyembek, yaitu mengoleskan ramuan khusus atau sirih ke dahi bayi sebagai simbol perlindungan. Air suci (Aiq Rendem) juga digunakan untuk membasahi sisa perapian, menandakan harapan agar kehidupan sang anak kelak selalu diselimuti kesejukan dan ketenangan.
Sebagai penutup, ritual Perak Api biasanya diakhiri dengan acara syukuran, zikir bersama, hingga tradisi Begibung (makan bersama dalam satu nampan besar) yang melibatkan keluarga besar, tokoh adat, serta tetangga sekitar. Jika sang orang tua memiliki rezeki lebih, ritual ini kerap dipadukan dengan ibadah Aqiqah dan potong rambut (Ngurisan).
Makna Spiritual dan Tolak Bala
Secara turun-temurun, masyarakat Suku Sasak memercayai bahwa nama yang melekat pada seorang anak memiliki pengaruh besar terhadap jalan hidupnya. Oleh karena itu, ritual Perak Api dipercaya dapat menjauhkan bayi dari marabahaya, menangkal gangguan makhluk halus, serta membuang segala kesialan.
Lebih dari sekadar ritual mistis, Perak Api mengandung nilai-nilai sosial yang sangat tinggi. Tradisi ini mempererat tali silaturahmi, menumbuhkan rasa gotong royong antar-warga, serta menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Lombok terus menjaga jalinan harmoni antara ajaran agama dan kearifan lokal leluhur mereka.





