Lambeturah.co.id - Harga produk plastik di Indonesia diperkirakan mulai mengalami penurunan pada pertengahan Juli hingga awal Agustus 2026. Proyeksi tersebut disampaikan Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) setelah harga bahan baku industri mulai menurun.

Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, menjelaskan bahwa industri plastik kini telah memperoleh alternatif bahan baku pengganti nafta yang sebelumnya sempat sulit didapat akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah setelah penutupan Selat Hormuz.

Sebagai pengganti, pelaku industri menggunakan gas LPG yang saat ini memiliki harga lebih murah dibandingkan nafta. Selain itu, pasokan nafta juga mulai kembali stabil berkat meningkatnya ekspor dari China ke Indonesia sejak Juni 2026.

Meski harga bahan baku mulai turun, Fajar mengatakan produsen masih menghabiskan stok lama yang dibeli saat harga masih tinggi. Karena itu, penurunan harga produk plastik di tingkat konsumen baru diperkirakan mulai terasa pada pertengahan Juli hingga awal Agustus.

Menurutnya, tren penurunan harga LPG juga dipengaruhi musim panas yang menyebabkan konsumsi energi berkurang sehingga pasokan lebih melimpah dan harga menjadi lebih rendah.

Di sisi lain, permintaan produk plastik masih belum meningkat karena masyarakat lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan tahun ajaran baru selama libur sekolah. Setelah periode tersebut berakhir, konsumsi plastik diperkirakan kembali meningkat sehingga harga produk jadi mulai menyesuaikan dengan biaya produksi yang lebih rendah.

Fajar juga memastikan gangguan pasokan bahan baku beberapa waktu lalu tidak sampai memicu pemutusan hubungan kerja (PHK). Utilisasi industri hulu bahkan sempat mencapai 85 persen sebelum produk dari China kembali membanjiri pasar Indonesia.

Sementara itu, sektor hilir masih mencatat tingkat utilisasi sekitar 60 persen karena pelaku industri menahan produksi di tengah tingginya produk impor dari China.

Meski menghadapi persaingan ketat, Inaplas menilai industri plastik nasional masih memiliki peluang besar untuk memperluas pasar ekspor, terutama ke kawasan Eropa dan Afrika, seiring meningkatnya minat sejumlah negara mencari pemasok baru dari Indonesia.