Lambeturah.co.id - Nama Pesulap Merah atau Marcel Radhival kembali menjadi perbincangan publik setelah konten yang dibuatnya di kawasan Gunung Kawi viral di media sosial. Kali ini, kritik datang dari salah satu kuncen Gunung Kawi, Agus, yang menilai cara pembuatan konten tersebut kurang menghormati kawasan yang selama ini juga dikenal sebagai tempat ibadah lintas agama.
Dalam sebuah podcast di kanal YouTube Jejak Backpacker yang dikutip pada Sabtu (11/7/2026), Agus menegaskan bahwa persoalan yang dipermasalahkan bukanlah kritik terhadap praktik pesugihan, melainkan etika saat memasuki area-area tertentu di Gunung Kawi.
Menurut Agus, setiap pengunjung yang hendak memasuki lokasi khusus seharusnya terlebih dahulu meminta izin kepada pengelola atau pihak yang bertanggung jawab sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat tersebut.
"Yang sempat viral itu sebenarnya boleh saya sebut agak kurang ajar," ujar Agus.
Ia menambahkan bahwa tidak semestinya seseorang memasuki area tertentu tanpa izin, terlebih kawasan tersebut memiliki nilai sejarah dan digunakan sebagai tempat ibadah.
Agus juga meluruskan anggapan masyarakat yang selama ini hanya mengenal Gunung Kawi sebagai lokasi yang identik dengan pesugihan. Ia menegaskan bahwa kawasan tersebut merupakan tempat peribadatan resmi bagi berbagai pemeluk agama.
Menurutnya, di kompleks Gunung Kawi terdapat berbagai fasilitas ibadah, mulai dari musala, rumah doa umat Kristen, wihara, klenteng, hingga pura. Seluruh tempat tersebut digunakan untuk beribadah dan tidak berkaitan dengan praktik pesugihan.
Karena itu, Agus mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat membahas Gunung Kawi. Ia menilai penyebutan kawasan tersebut hanya sebagai tempat pesugihan dapat menimbulkan kesalahpahaman dan mengabaikan fungsi utamanya sebagai kawasan ibadah yang diakui secara resmi.
Polemik mengenai konten Pesulap Merah di Gunung Kawi hingga kini masih ramai diperbincangkan di media sosial. Sebagian warganet menilai konten tersebut bertujuan memberikan edukasi, sementara sebagian lainnya menekankan pentingnya menjaga etika saat membuat konten di lokasi yang memiliki nilai budaya, sejarah, dan menjadi tempat ibadah.





