Lambeturah.co.id - Proses pencarian dua korban yang tertimbun bencana tanah longsor di Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Kabupaten Badung, Bali, diwarnai suasana sakral pada Selasa (3/11). Selain pengerjaan teknis oleh tim SAR gabungan, pencarian kini diiringi dengan pelaksanaan upacara adat Hindu secara niskala.
Ritual tersebut dipimpin langsung oleh Kasat Samapta Polres Badung, AKP I Wayan Praptayasa, yang juga merupakan seorang pemangku. Langkah ini diambil atas permintaan pemilik Eco Park lantaran pihak keluarga korban tidak memiliki pemangku untuk memimpin prosesi keagamaan.
"Saya terketuk untuk menjalankan dan melaksanakan upacara ini karena rekan-rekan kami dari Basarnas dan relawan sudah banyak di sini," ujar Praptayasa saat ditemui di lokasi kejadian.
Praptayasa menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu dikenal pemahaman sekala (nyata) dan niskala (tidak nyata). Upacara adat ini dilaksanakan dengan dua tujuan utama, yaitu memohon keselamatan bagi seluruh tim pencari serta memohon maaf kepada penguasa alam setempat agar proses evakuasi diberi kelancaran.
Menurutnya, kondisi alam di kawasan terdampak memang telah mengalami kerusakan. Ritual ini menjadi bentuk penghormatan dan permohonan maaf kepada alam.
"Pemiliknya mengatakan bahwa alam ini, tempat ini sudah dirusak. Bukan berarti yang menguasai tempat ini marah, tetapi alam sendiri yang mengatakan begitu bahwa terjadilah bencana ini," ungkap Praptayasa.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pendekatan niskala ini tidak menggantikan kerja keras tim di lapangan. Upacara adat dan pencarian fisik oleh tim SAR gabungan akan terus berjalan beriringan.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih bekerja ekstra untuk menemukan dua korban hilang yang teridentifikasi sebagai Bangkit Khoirul Mubarok (28), seorang WNI, dan Sacha Erich Schubert (56), WNA asal Jerman. Sementara itu, 21 korban selamat terdiri dari 19 WNI dan 2 WN Ukraina telah berhasil dievakuasi ke tempat yang aman.
Bencana longsor ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mencapai intensitas 121 mm/hari. Kondisi tanah yang labil dan topografi miring menyebabkan material longsor menerjang empat tenda glamping, bahkan menyeret salah satu tenda ke aliran sungai.





