Lambeturah.co.id - Shopee, platform e-commerce milik Sea Ltd., dikabarkan mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawan di berbagai negara. Langkah ini disebut berdampak pada sekitar 8 persen tenaga pengembang (developer) perusahaan secara global.
Berdasarkan informasi dari sumber yang mengetahui kebijakan tersebut, gelombang PHK telah dimulai pekan ini dan menyasar sejumlah posisi teknis, termasuk tim quality assurance (QA). Proses pengurangan karyawan disebut masih berlanjut dan kemungkinan akan mencakup lebih banyak pegawai dalam waktu dekat.
Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi apakah keputusan tersebut berkaitan langsung dengan ekspansi Sea Ltd. ke bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Namun, langkah ini muncul di tengah tren yang semakin umum di industri teknologi, di mana perusahaan-perusahaan besar mulai mengurangi jumlah tenaga kerja sembari meningkatkan investasi pada teknologi AI.
Fenomena serupa sebelumnya juga terjadi di sejumlah perusahaan teknologi global. Perkembangan AI memicu perdebatan mengenai dampaknya terhadap lapangan kerja, terutama pada sektor yang selama ini bergantung pada proses pengembangan perangkat lunak dan layanan teknologi informasi.
Selama masa pandemi COVID-19, banyak perusahaan teknologi melakukan perekrutan besar-besaran untuk memenuhi lonjakan aktivitas digital. Namun, setelah kondisi pasar berubah dan efisiensi menjadi prioritas, sejumlah perusahaan mulai melakukan restrukturisasi tenaga kerja.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa perkembangan AI dapat mengurangi kebutuhan terhadap berbagai pekerjaan yang selama ini ditangani manusia. Walaupun manfaat AI terhadap peningkatan produktivitas masih menjadi perdebatan, banyak perusahaan kini berupaya menjalankan operasional yang lebih efisien dengan sumber daya yang lebih sedikit.
Hingga saat ini, pihak Shopee maupun Sea Ltd. belum memberikan keterangan resmi terkait jumlah pasti karyawan yang terdampak maupun alasan utama di balik kebijakan PHK tersebut.





