Muncul Pengakuan Dokter PPDS yang Diduga 'Dipalak' 100-an Juta Malah Untungkan Senior

Lambeturah.co.id - Belakangan ini mencuat kasus kematian dokter PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) di Universitas Diponegoro karena adanya beragam kesaksian bullying di ranah kedokteran.
Terlepas dari semua bantahan keluarga soal penyebab meninggalnya bukan karena bunuh diri, fenomena bullying disebut-sebut juga memang sudah lama terjadi.
Bersasarkan kesaksian seseorang berinisial G, salah satu residen (calon dokter spesialis) di sebuah perguruan tinggi luar pulau Jawa menunjukkan sulitnya membebaskan PPDS dari tradisi perundungan yang sudah mengakar sejak bertahun-tahun lalu.
G juga sudah harus mengeluarkan puluhan juta rupiah saat baru saja masuk hanya untuk hiburan seperti pesta kedatangan residen baru.
Acara semacam ini bukan malah menguntungkan para junior, namun sebaliknya. "Untuk welcoming party residen, bisa menghabiskan Rp 30-80 juta yang akan ditanggung residen baru yang bersangkutan, biasanya 2 sampai 4 orang," kata G dikutip pada Minggu (18/8/2024).
"Untuk pemilihan venue welcoming party juga harus disurvey dan kami membuat list berisikan foto tempat, perbandingan harga, dan lain-lain, Kalau welcoming party-nya di akhir tahun, maka sekaligus bersama Natal dan itu biayanya lebih besar lagi karena mengundang seluruh anggota kolegium atau dokter spesialis yang ada di provinsi tersebut, dan ada acara tukar kado juga. Kado itu juga biasanya junior yang membelikan juga dan tidak diganti," tambahnya.
Tak hanya itu, biaya fantastis selama menjalani PPDS diakui G juga kerap dikeluarkan untuk kebutuhan 'rumah tangga' Sayangnya, lagi-lagi, kebanyakan hanya menguntungkan senior.
Selama enam bulan penuh, akumulasi biaya yang dikeluarkan satu junior tidak main-main, bisa mencapai seratusan juta rupiah.
"Ini mencakup pengeluaran departemen, seperti membeli aqua dus, aqua galon, kopi dan teh berbagai merek, bola kamper kamar mandi, alat kebersihan, bohlam, ratusan plastik tupperware dengan berbagai ukuran, dan lain-lain. Ini akan dipakai bersama, tetapi memang kebanyakan dinikmati konsulen dan senior." Ungkapnya.
"Akumulasi ratusan juta hanya untuk 6 bulan. Jadi kami stres juga, ini juga termasuk biaya memesankan tiket pesawat, pendaftaran seminar, hingga oleh-oleh dan keperluan entertain konsulen selama seminar di luar kota, Hampir nggak bisa lanjut kuliah," pungkasnya.