Bareskrim Polri Awasi Pergerakan Saham untuk Stabilitas Ekonomi Indonesia

Lambeturah.co.id - Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri saat ini sedang melakukan pemantauan terhadap dugaan perbuatan melawan hukum yang berkaitan dengan kinerja dan pergerakan harga saham di Indonesia.
Kombes M Irwan Susanto, Kasubdit 5 Bareskrim Polri, menekankan pentingnya menjaga situasi perekonomian di Tanah Air secara bersama-sama. Ia menyebutkan bahwa sektor asuransi merupakan salah satu pilar penopang ekonomi Indonesia. Pemantauan ini dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Kami dari Subdit 5 Dittipideksus Bareskrim Polri saat ini sedang memantau saham-saham. Sehingga, apakah saat ini saham ini sedang dalam kondisi baik-baik saja atau perlu mekanisme apa?" ujarnya dalam acara Bisnis Indonesia Forum di Jakarta, Rabu (5/3/2025).
Irwan menambahkan bahwa dukungan Bareskrim Polri terhadap saham diharapkan dapat membantu meringankan beban Presiden Prabowo Subianto di masa mendatang.
"Sehingga nantinya bapak Presiden ini bisa melakukan upaya. Apakah investornya kabur? Apa kita [Bareskrim] harus dijemput? ‘ayo baik-baik di Indonesia’," imbuhnya.
Ia berharap upaya ini dapat menjaga ekosistem industri investasi, khususnya di sektor asuransi, yang merupakan salah satu penopang perekonomian Indonesia.
"Ini berharap kepada industri investasi dari perasuransian bisa dijaga sehingga ini bisa menopang satu sisi ekonomi dan memberikan kepastian kepada nasabah [asuransi]," pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada perdagangan pekan lalu. Namun, IHSG berhasil ditutup menguat pada level 6.531,39 pada perdagangan hari ini, Rabu (5/3/2025).
Indeks komposit ini menguat berkat kenaikan saham BBRI, BBCA, dan GOTO. Berdasarkan data RTI Infokom, pada pukul 16.00 WIB, IHSG ditutup pada level 6.531,39, naik 2,43%.
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak dalam rentang 6.405-6.570, dengan 424 saham menguat, 182 saham melemah, dan 191 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat naik menjadi Rp11.246 triliun.
Kinerja IHSG diprediksi akan fluktuatif seiring dengan pengaruh sentimen global, termasuk kebijakan tarif perdagangan yang diusung oleh Presiden AS Donald Trump.
Di sisi lain, peluncuran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan peresmian bank emas atau bullion bank tidak memberikan dampak positif bagi pasar modal.