Ikut Tren 'Add Yours' Di Instagram Berakhir Jadi Korban Penipuan

Ikut Tren 'Add Yours' Di Instagram Berakhir Jadi Korban Penipuan
LambeTurah.co.id - Tren 'Add Yours' di Instagram berujung petaka ketika seseorang tidak berhati-hati ketika menggunakannya. Viral kisah pengguna 'Add Yours' menjadi korban penipuan.

Media sosial kini sedang ramai dengan tren 'Add Yours' yang dirilis Instagram pada 2 November 2021 lalu. Tren ini akhirnya memakan korban ketika pengguna terjebak memberikan data pribadinya di Instagram Story.

Padahal jika data-data yang bersifat pribadi bisa jadi disalahgunakan untuk kejahatan dan resiko lainnya. Sangat disayangkan, karena pasti bukan itu tujuan awal Instagram meluncurkan fitur 'Add Yours'.

Warga Gugat Presiden Jokowi ke MA Terkait Sanksi Pidana Bagi Yang Tak Mau Divaksin



Add Yours dibayangkan Instagram sebagai cara baru untuk membuat user generated content (UGC) yang bisa viral dan menguntungkan semua pengguna. Pengguna bisa menunjukkan sesuatu di IG Story, lalu dia bisa meminta pengguna lainnya untuk menunjukkan hal yang sama.

Di Indonesia, hal itu akhirnya menjadi masalah ketika pertanyaan pada stiker Add Yours adalah data pribadi pengguna. Sebuah tweet dari @ditamoechtar_ viral karena membagikan pengalaman temannya yang jadi korban penipuan.

Teman dari @ditamoechtar_ sedang mengikuti tren 'Add Yours' dan dengan tidak sengaja membagikan nama panggilan pribadi yang hanya diketahui orang-orang terdekat. Akibatnya korban percaya untuk mengirimkan uang ketika penipu menyapa dengan nama kecilnya.

Di Twitter, kemudian banyak screenshoot foto Add Yours yang menanyakan data-data pribadi terkait perbankan. Hal inilah yang kemudian berbahaya karena sikap netizen yang FOMO alias latah tidak mau ketinggalan tren.

Ketua Divisi Akses Atas Informasi SAFEnet, Unggul Sagena, mengatakan para pengguna harus tetap memastikan keamanan data pribadi mereka. Jangan memposting data pribadi, apalagi sekadar ikutan tren.

"Yang berbahaya memang dari konten yang di-create pengguna. Untuk itu, selalu pastikan konten tidak bersifat pribadi dapat dikonsumsi publik (dilihat, dilibatkan, dan sebagainya)," kata dia.

Selain itu, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengingatkan agar para pengguna internet harus lebih teliti dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

"Harus hati-hati dan waspada. Cek lagi jangan mudah ikut-ikutan tren. Harus paham mana yang bisa dishare dan yang tidak," kata Heru.